Jumat, 18 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Sulap Alat Peraga Kampanye Jadi Ragam Sandal Eksklusif

24 April 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

UNIK: Asniawati bersama Dani Kristanto sedang membuat sandal dari MMT.

UNIK: Asniawati bersama Dani Kristanto sedang membuat sandal dari MMT.

Share this      

Alat peraga kampanye (spanduk, baliho, banner) terbuat dari plastik atau MMT biasanya terbuang begitu saja usai pemilu. Namun, di tangan pasangan suami istri (pasutri) asal Wonogiri ini, bahan-bahan bekas itu disulap menjadi aneka sandal eksklusif menarik.

IWAN KAWUL, Wonogiri. 

Sudah sejak tiga tahun terakhir Novia Dani Kristanto, 37, dan istrinya Asniawati, 38, menekuni usaha pembuatan sandal pengantin atau disebut selop. Usaha ini dikerjakan berdua di rumahnya di Dusun Gayam RT 01 RW 04, Desa Pondok, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri.

“Awalnya kami dari Solo. Belajar membuat produk selop juga di Solo. Lalu pindah ke Wonogiri, dan membuka usaha di sini,” kata Novia Dani Kristanto ditemui di rumahnya kemarin. 

Saat dijumpai koran ini, keduanya sedang asyik berdiskusi dalam membuat pola dan desain selop. Tampak sebuah lembaran MMT bergambar caleg lengkap dengan partai politiknya menjadi bahan diskusi keduanya. Mereka sedang memilih bagian mana dari MMT yang akan digunting untuk dibuat selop. “Yang cocok ini, Yah, ada merah dan putihnya,” kata sang Istri Asniawati kepada suaminya. “Itu untuk bagian atasnya ya? Tapi jangan sampai kena gambar matanya,” kata sang suami. 

Ya, mereka dalam sepekan ini banyak menerima pesanan selop dan sandal dari bahan MMT bekas alat peraga kampanye. Semula, ide membuat selop ini muncul setelah mereka melihat postingan di instagram Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang membuat lomba produk kerajinan berbahan MMT bekas alat peraga kampanye. 

“Kami kan memang basiknya kerajinan selop. Akhirnya kami bikin produk, lalu ikut dikirim ke lombanya Pak Ganjar itu. Sebelum dikirim saya foto lalu di-upload ke Facebook. Eh, ada yang tertarik dan memesannya,” kata Asniawati.

Bukan hanya selop, MMT juga dibuat aneka sandal. Hanya saja, baru dua jenis yang dikirim untuk lomba yang digelar oleh gubernur. Masih banyak ide untuk membuat aneka sandal berbahan MMT. 

“Kalau yang saya kirim baru dua, selop dan sandal perempuan. Kami juga masih eksplore untuk membuat sandal gunung, sandal pendekar dan sandal-sandal perempuan model lainnya,” jelas ibu lima anak ini. 

Bahan selop dan sandal MMT diyakini lebih kuat dari bahan selop dan sandal pada umumnya. Biasanya selop yang dia produksi berbahan perlak, yakni bahan imitasi kulit, tapi kualitasnya masih di bawah kalep. Bahan ini mudah rusak jika terlalu sering kena air. 

“Kami yakin bahan MMT ini lebih kuat dan tahan lama, karena kan dari plastik. Kalau kena air pasti awet. Beda dengan perlak,” timpal Novia Dani. 

Keuntungan lain dari selop MMT, tentu saja bahan utamanya tidak perlu beli. Cukup dengan MMT pemberian caleg atau meminta langsung kepada tim sukses. Biaya produksi setiap pasang selop bisa ditekan hingga Rp 10 ribu sampai 15 ribu. Harga jualnya tentu lebih murah dengan selop biasanya. 

“Bahan MMT kan minta atau diberi. Jadi biaya produksinya bisa ditekan. Paling beli bahan lain seperti lem, benang jahit dan matras untuk alasnya,” ujar Asniawati sembari membuat pola menggunting salah satu dari bagian MMT. 

Selop MMT ini dijamin unik dan eksklusif karena tidak ada duanya. Apalagi sendalnya, dijamin tidak ada yang sama. Tidak ada produk sandal atau selop yang identik. Berbeda dengan selop pada umumnya yang berwarna hitam, emas, perak. Atau selop dan sandal berbahan batik.

“Kalau selop umumnya kan ya itu-itu saja warnanya. Bahan batik juga ada yang sama. Tapi kalau MMT ya eksklusif,” ujarnya.

Keunikan dari selop dan MMT ini terletak pada warna dan tulisan bahkan foto wajah caleg. Paduan wajah, warna dasar MMT dan warna tulisan menjadi corak dan grafis dari selop dan sandal. 

“Kendalanya terus terang tenaga kerja. Untuk produksi selop sehari-hari saja hanya mempekerjakan dua orang. Kami kan perajin kecil. Jadi kalau untuk mempekerjakan banyak orang dengan gaji di atas UMR jelas belum mampu,” ujarnya. Untuk produksi selop setiap hari, selain selop MMT, per pekannya mampu menyelesaikan 5-6 kodi. Untuk pasar rutin dikirim ke pasar di Solo dan Jogja. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia