Minggu, 20 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Ganjar Pranowo Warning Perusahaan Patuhi K3

24 April 2019, 13: 05: 59 WIB | editor : Perdana

LIMA KALI: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima penghargaan dari Menaker Hanif Dakiri sebagai pembina terbaik K3 di Jakarta, Senin malam (22/4)

LIMA KALI: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima penghargaan dari Menaker Hanif Dakiri sebagai pembina terbaik K3 di Jakarta, Senin malam (22/4) (BAYU WICAKSONO/RADAR SOLO)

Share this      

JAKARTA – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus menjadi prioritas bagi perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Bila mereka mengabaikan hal ini, maka Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal menindak tegas. Terutama bagi perusahaan skala besar.

“Ini berlaku untuk semua, baik BUMN maupun BUMD yang ada di Jawa Tengah. Jika sampai ada yang abai, langsung kami tindak tegas. Tetapi, khusus perusahaan menengah ke bawah akan ada penanganan berbeda,” kata Ganjar saat diwawancara usai menerima penghargaan sebagai pembina terbaik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari Kementerian Ketenagakerjaan di Jakarta Senin malam (22/4).

Penghargaan ini merupakan kali kelima yang diraih Ganjar Pranowo. Penyerahan penghargaan dilakukan di Ruang Birawa Hotel Bidakara Jakarta oleh Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri.

Ganjar menambahkan, saat ini yang perlu dilakukan adalah memastikan pengawas-pengawas penegakan K3 itu memiliki integritas. Dengan begitu, mereka tidak kalah ketika berhadapan dengan perusahaan-perusahaan berskala besar.

Sementara untuk perusahaan-perusahaan skala menengah ke bawah, menurut Ganjar, perlu dilakukan pendampingan untuk penerapan K3. Pihaknya akan lebih mengedepankan edukasi dan pembinaan ketimbang penindakan bila mereka belum bisa sepenuhnya menerapkan K3. 

“Perusahaan-perusahaan menengah ke bawah ini mungkin saja ada faktor ketidakmampuan peralatan atau tidak mampu secara teknis. Karena itu mereka butuh pendampingan. Secara umum, perusahaan-perusahaan di Jateng sudah bagus kesadarannya dalam penerapan K3. PR-nya hanya bagaimana kita terus sosialisasi ke perusahaan-perusahaan untuk mematuhi ini,” bebernya.

Sementara itu, Menaker Hanif Dhakiri mengungkapkan, saat ini masih banyak perusahaan yang menganggap penerapan K3 sebagai sebuah beban. Padahal, menurut Hanif, pelaksanaan dan penerapan K3 itu merupakan sebuah investasi bagi perusahaan.

“Tanpa bosan dan jemu, saya mengajak seluruh pihak agar penerapan K3 bisa terlaksana dengan baik di tempat kerja di seluruh Indonesia. Saya prihatin angka kecelakaan kerja hingga saat ini masih tinggi. Data tahun lalu menyebutkan ada 157 ribuan kasus di Indonesia, kebanyakan terjadi di jalan raya saat para pekerja pergi-pulang bekerja, terutama mereka yang mengendarai sepeda motor,” kata Hanif.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jateng Wika Bintang menjelaskan, ada 155 perusahaan yang menerima penghargaan K3 pada 2019 ini. Perusahaan tersebut terdiri atas 46 perusahaan memperoleh penghargaan kecelakaan nihil atau zero accident, dan 26 perusahaan meraih penghargaan program pencegahan dan penanggulangan (P2) HIV/AIDS.

Kemudian 27 perusahaan meraih penghargaan sistem manajemen K3 (SMK3) dan perusahaan penyelenggara pelayanan kesehatan kerja, serta perusahaan yang telah membentuk panitia pembinaan keselamatan kerja ketiga sejumlah 167 perusahaan.

Sekadar diketahui, perusahaan yang wajib sertifikasi SMK3 merupakan perusahaan-perusahaan yang sudah mempekerjakan karyawan/pekerja/buruh lebih dari 100 orang. Selain itu, perusahaan yang karyawannya kurang dari 100 orang tetapi mempunyai potensi bahaya tinggi, maka wajib menerapkan Sistem Manajemen K3 dengan dibuktikan oleh sertifikat SMK3.

“Jumlah perusahaan di Jawa Tengah yang menerima terus meningkat. Pada 2017 terdapat 124 perusahaan yang menerima penghargaan berbagai kategori, pada 2018 meningkat menjadi 132 perusahaan,” kata Wika Bintang, yang turut mendampingi Ganjar Pranowo pada kesempatan itu. (lhr/bun

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia