Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Komunikasi Kluster Kesehatan Masih Kurang

24 April 2019, 22: 23: 35 WIB | editor : Perdana

TINGKATKAN KOORDINASI: Kegiatan gladi lapang kluster kesehatan di shelter pengungsian Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Klaten Utara, kemarin (23/4).

TINGKATKAN KOORDINASI: Kegiatan gladi lapang kluster kesehatan di shelter pengungsian Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Klaten Utara, kemarin (23/4). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Seluruh kluster yang dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten siap menghadapi erupsi Gunung Merapi. Salah satunya kluster kesehatan. Memiliki peran penting dalam pengurangan risiko bencana, khususnya penanganan terhadap para korban.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten Nur Tjahjono Suharto mengatakan, mematangkan penanganan, digelar gladi lapang khusus kluster kesehatan, kemarin (23/4). Melibatkan 210 peserta. Terdiri dari tenaga medis di 34 puskesmas dan rumah sakit. Plus warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang dan relawan serta personel Polri dan TNI di shelter pengungsian Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan.

”Gladi lapang ini sudah digelar tiga kali. Mulai dari internal BPBD sendiri, gabungan dengan seluruh kluster, dan kali ini khusus kluster kesehatan. Kami melibatkan empat dusun yang terdekat dengan puncak Merapi. Kami ingin melihat bagaimana pelayanan dari tenaga medis,” papar Nur Tjahjono Suharto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Selain itu, BPBD juga ingin memantau kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten. Termasuk sarana dan prasarana kesehatan yang mendukung upata penanganan korban.

”Tenaga medis harus mampu menangani berbagai kriteria korban bencana. Mulai dari warga lanjut usia, ibu hamil, hingga orang dengan gangguan jiwa. Termasuk menangani korban dengan luka bakar dan kecelakanaan lalu lintas pada saat proses evakuasi berlangsung,” beber Nur.

Meski sudah digelar tiga kali, masih ada beberapa kekurangan. Menjadi bahan evaluasi bagi BPBD. Terutama penggunaan alat komunikasi untuk berkoordinasi. ”Saya lihat mereka masih mengandalkan smartphone. Padahal saat kondisi darurat, bisa jadi alat komunikasi tidak berfungsi. Satu-satunya hanya mengandalkan handy talk (HT),” papar Nur.

Selanjutnya, BPBD merekomendasikan dinkes melakukan pengadaan HT. Diberikan kepada para tenaga medis di puskesmas. Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinkes Klaten Nyantosani sudah mengoptimalkan penggunaan HT. Alat komunikasi tersebut dibawa sopir ambulans dan ketua tim reaksi cepat (TRC). ”Setelah ini akan kami koordinasikan terkait penggunaan HT. Karena kami menyadari, saat terjadi kondisi darurat seperti bencana erupsi, smartphone tidak bisa optimal,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia