Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Boyolali

Sadranan Bergeser ke Dukuh Sidorejo

25 April 2019, 17: 29: 54 WIB | editor : Perdana

TURUN TEMURUN: Warga menyantap aneka makanan disela tradisi Sadranan yang berlangsung di makam Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali, kemarin (24/4).

TURUN TEMURUN: Warga menyantap aneka makanan disela tradisi Sadranan yang berlangsung di makam Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali, kemarin (24/4). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Tradisi Sadranan di Kecamatan Cepogo, Boyolali terus berlanjut. Diawali Grebeg Sadranan di depan Kantor Kecamatan Cepogo, Minggu (14/4). Nah paling gres, Sadranan bergeser di Dukuh Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, kemarin (24/4).

Tradisi Sadranan digelar bergantian di setiap desa di Cepogo. Dimulai pada pertengahan bulan Ruwah (penangalan Jawa). Jadwal tersebut sudah diumumkan kepada warga sejak jauh-jauh hari. Bahkan, jadwal keseluruhan juga disosialisasikan oleh Pemerintah Kecamatan Cepogo.

Di Dukuh Sidorejo kemarin, aktivitas warga sudah terlihat sejak pagi. Membawa bakul atau tenong berisi aneka makanan. Dibawa ke makam desa setempat yang telah dibersihkan, sehari sebelumnya.

Warga juga membawa rantang berisi nasi. Lengkap dengan lauk opor ayam dan sambal goreng. Ada pula kerupuk dan pelengkap lainnya. Termasuk aneka buah-buahan. Setelah warga berkumpul, dipanjatkan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Doa dimaksudkan untuk memohon kepada Tuhan agar arwah orang tua dan saudara yang telah meninggal dunia diberikan ampunan. Selain itu, arwahnya ditempatkan di surga. Sedangkan sanak famili yang masih hidup diberikan kesehatan dan kemudahan rezeki.

Suasana akrab dan guyub rukun penuh persaudaraan terlihat usai doa bersama. Seluruh makanan yang dibawa disantap bersama-sama. Warga juga saling bertukar makanan. Kegiatan ini juga mengundang animo warga dari luar daerah yang ikut nimbrung.

Usai ritual di makam, warga saling berkunjung ke rumah tetangga dan sanak saudara. Tokoh agama setempat M. Zaenuri menyebut tradisi sadranan sudah dikenal sejak 1462. Masyarakat diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW agar mendoakan arwah orang tuanya yang sudah meninggal dunia. ”Masyarakat juga diingatkan agar senantiasa menjalin silaturahmi antarsaudara dan tetangga,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Camat Cepogo Insan Adi Asmono menambahkan, tradisi Sadranan terus dilestarikan warganya hingga sekarang. Bahkan pihaknya telah menggelar Grebeg Sadranan yang diikuti perwakilan seluruh desa di Kecamatan Cepogo. ”Grebeg Sadranan sebagai upacara pembuka yang digelar bergantian di desa-desa di Cepogo,” bebernya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia