Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Sebulan, 13 Ribu Ekor Anjing Dikonsumsi

26 April 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

PEDULI SATWA: Aktivitas pecinta anjing menolak maraknya perdagangan anjing untuk dikonsumsi warga di Kota Bengawan di halaman balai kota.

PEDULI SATWA: Aktivitas pecinta anjing menolak maraknya perdagangan anjing untuk dikonsumsi warga di Kota Bengawan di halaman balai kota. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Konsumsi daging anjing di Kota Solo termasuk tertinggi di Indonesia, bahkan hampir setara dengan Manado, Sulawesi Utara. Hal ini mengundang keprihatinan bagi aktivis pecinta anjing atau dog lover. Sebagai bentuk protes, mereka menggelar aksi di halaman balai kota.

Para aktivis ini membentangkan spanduk bertuliskan ”Solo Menolak Daging Anjing” dan sejumlah poster bergambar anjing-anjing yang diperlakukan brutal sebelum dibunuh dan dijadikan daging anjing.

Koordinator Aksi Angelina Pane mengatakan, pihaknya baru-baru ini melakukan investigasi terkait perdagangan daging anjing di Kota Solo. Hasilnya sangat mencengangkan. Kota Bengawan menjadi pusat perdagangan daging anjing di Jawa. Dalam sebulan sebanyak 13.700 ekor anjing dikonsumsi di puluhan warung makan yang tersebar di seluruh penjuru Kota Solo. Data itu didapatkan dari hasil investigasi yang dilakukan Januari 2019 lalu. 

“Sebelum ini kami juga sudah investigasi dan ternyata ada peningkatan konsumsi daging anjing cukup tinggi di Kota Solo. Angkanya pada kisaran 10 ribu ekor per bulan pada 2017. Kemudian dari investigasi terbaru 2019 ini meningkat menjadi 13.700 ekor per bulannya,” paparnya.

Aangka tersebut didapat karena ada puluhan warung makan di Kota Solo menjajakan menu daging anjing. Setiap hari, satu warung bisa menyembelih antara lima sampai tujuh ekor anjing. 

“Angka tersebut dikali dengan jumlah rumah makan yang menjajakan daging anjing sebagai makan. Saat ini di Kota Solo saja terdapat 82 warung daging anjing,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ini setiap hari, maka anjing-anjing hidup tersebut didatangkan dari Jawa Barat, mulai dari Tasikmalaya, Garut dan Pangandaran. Bahkan, akhir-akhir ini juga datang dari Surabaya dikirim ke Solo hampir 500 ekor anjing.

Angka tersebut , kata Angela, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Jogjakarta. Lebih miris lagi tidak jarang anjing-anjing tersebut diperoleh dengan cara illegal, yakni mencuri dari tangan pemiliknya. Ia mengaku mendapati sendiri ada pelaku penculikan anjing yang setiap hari berkeliling di kompleks perumahan untuk mencari anjing dan dijual kepada pedagang daging anjing.

“Jenis anjing yang dikonsumsi ini tidak pandang bulu. Baik anjing kampung sampai ras. Bahkan yang lebih ekstrem mencuri dengan menggunakan racun. Sehingga anjing yang dijual dalam kondisi mati keracunan. Ini tentunya menjadi keprihatinan lain kami,” ujarnya.

Disinggung mengenai banyaknya warga Solo yang mengonsumsi daging anjing, Angela mengatakan awalnya memang dipicu adanya mitos yang mengatakan bahwa mengonsumsi daging anjing mampu meningkatkan stamina.

Meski belakangan hal tersebut terbukti hanya mitos, namun stigma yang terlanjur tumbuh di masyarakat tidak bisa dihilangkan begitu saja dan orang-orang terlanjur suka dengan daging anjing. “Bahkan yang mengonsumsi ada juga yang muslim. Padahal, tidak ada khasiat di dalam daging anjing sebagaimana yang pernah diteliti peneliti UGM,” ujarnya.

Selain menggelar aksi demo, dalam kesempatan tersebut pihaknya juga menyerahkan hasil laporan investigasi Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) dan menawarkan kerja sama untuk menghentikan perdagangan daging anjing di Kota Solo. Pasalnya, jika tidak segera dihentikan, dikhawatirkan status bebas rabies yang saat ini disandang Kota Bengawan akan hilang, seperti yang sudah terjadi di Nusa Tenggara Barat.

Usai menggelar aksi demo, sejumlah perwakilan DMFI diterima oleh Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta, Weny Ekayanti. Dalam pertemuan tersebut, Weny mengapresiasi dan menerima data dari para aktivis pecinta anjing itu.

Hanya saja untuk melarang perdagangan daging anjing pihaknya masih terkendala soal aturan yang menaungi. “Yang bisa kami lakukan adalah melakukan pengawasan dalam hal pencegahan dan penanggulangan penyakit hewan menular. Salah satunya rabies,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia