Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Telepon Darurat Kurang Responsif, Dinas Damkar Buat Smart Alarm

29 April 2019, 16: 56: 51 WIB | editor : Perdana

LEBIH EFEKTIF: Smart alarm bisa deteksi kebakaran lebih dini

LEBIH EFEKTIF: Smart alarm bisa deteksi kebakaran lebih dini (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Sigap, tepat waktu, dan terencana. Inilah gambaran petugas pemadam kebakaran (damkar) dalam menjalankan tugas sebagai pawang api. Jika tidak, bisa-bisa si jago merah makin menjadi-jadi dan melalap apa saja yang ada di sekitarnya. Karena itu diperlukan inovasi baru agar penanganan bencana kebakaran makin efektif. Seperti apa?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

Kerja  petugas damkar bukan hanya sekadar memadamkan api. Namun juga harus inovatif dalam memunculkan terobosan di ranah penanggulangan hingga penanganan bencana kebakaran.

“Tidak bisa hanya dengan cara konvensional. Harus ada terobosan baru untuk mencegahnya. Sebab, kebakaran ini kan tidak bisa diprediksi kapan terjadinya,” ujar Kepala Dinas Damkar Kota Surakarta Gatot Sutanto.

Soal penanggulangan kebakaran, Gatot mengatakan, sebenarnya dinas yang dia pimpin terus gencar sosialisasi hingga membentuk kader-kader tanggap kebakaran di seluruh kecamatan di Kota Bengawan. Bahkan, pihaknya menargetkan kader tersebut juga harus dimiliki di setiap kelurahan di Solo. 

“Ada Satlakar dan Wanito Agni di lima kecamatan. Ke depan kami harap bisa menyebar ke setiap kelurahan. Jadi penanganan bencana bisa lebih cepat,” ujar dia. 

Dari segi penanganan bencana, pihaknya kerap mengecek sejumlah sarana dan prasarana penanggulangan bencana seperti pengecekan hidran dan armada damkar. Termasuk memetakan sumber air alternatif yang dapat dituju saat keadaan darurat. 

“Petugas damkar inikan baru bergerak ketika ada kebakaran. Jadi kecepatan waktu dan ketepatan penanganan yang paling menentukan,” jelas Gatot. 

Untuk memaksimalkan kecepatan dan ketepatan penanganan, pihaknya telah menyiapkan berbagai inovasi baru, termasuk smart alarm yang bakal segera di-launching dalam waktu dekat. “Ini sistem melapor cepat sehingga dapat direspons dengan secepat mungkin oleh petugas,” jelas dia.

Teknisnya, sambung Gatot, smart alarm tersebut di pasang di suatu gedung atau lantai gedung dan akan langsung terhubung dengan monitor kebencanaan di Markas Dinas Pemadam Kebakaran. Alat ini menggunakan jaringan internet sehingga lebih mudah dalam penggunaannya. Saat si jago merah muncul, petugas akan langsung tahu di mana titik api itu muncul beserta koordinat paling tepat bencana kebakaran tersebut. “Jelas ini lebih efektif mencegah agar kebakaran bisa dideteksi lebih awal,” ujar dia. 

Bagaimana dengan  gedung yang sudah punya alarm kebakaran? Gatot memastikan hal itu bukan menjadi masalah. Sebab, smart alarm yang dimaksud adalah sebuah konektor tambahan yang akan langsung menyambungkan dengan monitor bencana petugas. Teknisnya, kotak konektor itu dipasang di sekitar alarm kebakaran. Sehingga saat muncul asap kebakaran dan alarm setempat menyala, lampu bencana akan ikut menyala dan memberikan signal darurat ke markas damkar. 

 “Alat ini sebenarnya hanya konektor. Bagi gedung yang sudah punya alarm hanya tinggal dihubungkan saja. Nanti secara otomatis akan memberikan tanda. Bagi yang belum ada tombol darurat yang dapat ditekan secara manual,” beber Gatot. 

Kelima tombol darurat tersebut masing-masing memiliki fungsi berbeda sesuai kegentingan masing-masing. Detailnya, tombol pertama merupakan tombol kebakaran. Kemudian tombol kedua berupa tombol pertolongan medis. Yang ketiga adalah tombol bencana banjir. Keempat merupakan tombol bencana gempa. Sementara tombol kelima adalah tombol untuk melaporkan kejadian huru-hara. 

“Untuk sementara kami wacanakan pemasangan di 20 gedung vital dulu seperti perkantoran, pasar, rumah sakit dan lainnya,” beber Gatot.

Seberapa efektif alat tersebut? Gatot memastikan alat ini jauh lebih efektif dari pada sambungan telepon darurat ke 113. Sebab, kalau lewat telepon, masyarakat perlu melaporkan detail sebelum direspons petugas. Sementara smart alarm ini tak perlu melaporkan karena sinyal bahaya akan langsung direspons. 

“Penggunaannya pakai listrik. Maka ada kemungkinan alat ini akan padam. Oleh sebab itu diberikan  baterai cadangan agar tetap bisa menyala selama beberapa saat sesudah listrik padam. Fungsinya untuk mengirimkan sinyal,” jelas dia.

Mengenai ide ini kali pertama muncul kala dirinya mengikuti seleksi kepala dinas di akhir 2016 lalu. Kemudian pada 2017 pihaknya mematangkan konsep ini sehingga bisa diproduksi pada 2018. Kemudian tahun ini pihaknya mengagendakan pemasangan di beberapa bangunan vital. Dan 2020 mendatang pihaknya berharap alat ini sudah terpasang diseluruh bangunan vital di Kota Solo. 

“Rencananya akan kami lengkapi hingga bisa dipakai lewat telepon pintar masing-masing. Konsepnya masyarakat hanya tinggal mengunduh aplikasi itu, tinggal pencet dan akan muncul mode kamera yang akan langsung tersambung ke monitor induk di markas damkar. Kalau yang satu ini masih dimatangkan. Kalau smart alarm segera launching,” tutur Gatot. (*) 

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia