Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Cagar Budaya Tak Terurus, Pemkab Usul Bentuk Tim Ahli

01 Mei 2019, 14: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Disparbudpora Klaten Pantoro

Disparbudpora Klaten Pantoro

Share this      

KLATEN – Ribuan objek cagar budaya tersebar merata di sejumlah wilayah di Kabupaten Klaten. Sayangnya kondisinya banyak yang tak terawat. Karena keterbatasan biaya dan sumber daya manusia (SDM). Tak heran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten berniat membentuk tim ahli cagar budaya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten Jaka Sawaldi mengaku ada sejumlah kendala dalam upaya melindungi cagar budaya. Seperti sebaran situs yang ada di seluruh wilayah Klaten. Membutuhkan perhatian besar. Baik dari segi pembiayaan maupun personel yang membidanginya.

”Kami juga belum memiliki regulasi dalam bentuk peraturan daerah. Atau peraturan bupati dalam rangka melindungi cagar budaya yang ada di Klaten. Ini masalahnya,” ucap Jaka kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten Pantoro mengusulkan pembentukan tim ahli cagar budaya. Untuk mempercepat kajian dan menganalisasi penetapan suatu objek menjadi cagar budaya.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), terdapat 1.285 objek yang masuk rekapitulasi pendaftaran. Tetapi yang sudah terverikasi baru 1.202 objek. Artinya masih ada 83 objek lagi yang belum terverifikasi.

”Jika nanti Klaten sudah memenuhi persyaratan, bisa membentuk tim ahli cagar budaya. Di dalamnya berisikan lima orang yang sudah tersertifikasi. Karena syarat menjadi ahli cagar budaya tidak mudah,” jelas Pantoro.

Saat ini tengah dikebut pembahasan rancangan peraturan daerah (raperda) terkait perlindungan cagar budaya. Diharapkan tahun ini raperda tersebut dapat diselesaikan. Karena selama ini Kota Bersinar –julukan Klaten– belum memiliki payung hukum. Pantoro menambahkan, apabila sudah memiliki perda, maka perlindungan terhadap objek cagar budaya bisa maksimal.

”Jadi kalau ada temuan (benda diduga cagar budaya, red), lebih baik dilaporkan kepada kami. Bisa juga langsung ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Saya harap diamankan terlebih dahulu. Nantinya ditindaklanjuti dengan peninjauan ke lapangan,” bebernya.

Melakukan kajian dan analisis pada objek cagar budaya tidaklah mudah. Butuh proses panjang. Apalagi jumlahnya cukup banyak di Klaten. Salah satu solusi mempercepat verifikasi, yakni melalui pembentukan tim ahli tersebut.

”Objek yang harus diverifikasi di Klaten terbanyak kedua se-Jateng. Hal ini wajar karena Klaten berada di tengah Solo dan Jogja. Dulunya yang merupakan bagian dari Kerajaan Mataram,” papar Pantoro. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia