Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Cerita di Balik Tewasnya Anggota DPRD Sragen Sugimin di Tangan Pasutri

Kerap Wedangan Bertiga, Suami Diaku Kakak

03 Mei 2019, 17: 10: 20 WIB | editor : Perdana

PASRAH: Nurwanto diperiksa penyidik Polres Wonogiri Kamis kemarin (5/2)

PASRAH: Nurwanto diperiksa penyidik Polres Wonogiri Kamis kemarin (5/2) (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

Kisah tewasnya anggota sekaligus calon anggota legislatif DPRD Sragen Sugimin di tangan sepasang suami istri di Wonogiri membuat banyak orang penasaran. Untuk menguak sisi lain itu, koran ini berkesempatan wawancara terhadap salah satu tersangka, Nurwanto, 43. Bagaimana ceritanya? 

IWAN KAWUL, Wonogiri 

NUWARNTO selesai menjalani pemeriksaan penyidik Polres Wonogiri saat ditemui koran ini kemarin siang. Meski memiliki tubuh tinggi besar, namun tutur katanya ramah dan sopan. Dia memang baru saja ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan caleg asal Sragen Sugimin. 

Pria ini terseret dalam kasus tersebut karena turut serta membantu istrinya Nurhayati Kustanti, 41, meracuni Sugimin hingga tewas. Kepada koran ini Nurwanto memulai bercerita kisah hidup berumah tangga dengan Nurhayati Kustanti. Keduanya menikah pada 10 tahun lalu. Saat ini keduanya sudah dikaruniai seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang duduk di kelas 3 sekolah dasar. 

“Saya kenal (Nurhayati Kustanti) dikenalkan sama teman. Namanya juga laki-laki kenal dengan perempuan perpendidikan tinggi kan pasti suka. Berpendidikan tinggi tentu punya pola pikir yang berbeda. Lalu kami menikah,” kata Nurwanto. 

Sejak berkenalan, istrinya sudah menjadi dosen di sebuah universitas di Blitar. Hingga terakhir ini, menjadi dosen di sebuah universitas di Kediri. Namun, karena perbedaan status dan penghasilan, kehidupan rumah tangga keduanya tidak bahagia seperti harapan. 

“Saya hanya bekerja ikut proyek, tapi akhir-akhir ini disuruh istri mengurus konveksi. Sejak 2 tahun menikah sudah sering bertengkar. Ya jujur saja, saya tidak bahagia. Sejak dua tahun setelah menikah, sedikit-sedikit salah,” ujar Nurwanto. 

Setahun belakangan, hadir Sugimin, anggota DPRD Sragen yang semula menjalin kerja sama dengan Nurhayati dalam bisnis konveksi. Dalam mengurus konveksi hasil kerja sama antara Nurhayati dan Sugimin, Nurwanto diangkat sebagai bos. Tapi, Nurwanto tidak pernah diberi bagian sepeser pun. 

Usaha konveksi yang berada di Gunung Kukusan, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri itu memiliki lima penjahit. Jika order sedang banyak, mereka memberikan order ke tempat lain.

“Ordernya ada kaos, juga seragam pencak silat. Tapi saya tidak tahu masalah keuangan. Kalau ATM ada isinya dibawa istri saya. Tapi kalau (ATM) tidak ada isinya baru diberikan kepada saya,” kata Nurwanto. 

Semula, hubungan bisnis ini baik-baik saja, bahkan hubungan Nurwanto dengan Sugimin sampai dengan akhir hayatnya juga tidak ada masalah. Bahkan, awal-awal menjalin kerja sama juga sering keluar bertiga, pergi ke wedangan. Hanya saja, oleh istrinya, Nurwanto diakui sebagai kakak. Bahkan, beberapa kali Sugimin sakit saat berada di rumah sakit, dia sering mengantar Sugimin ke rumah sakit, membawakan baju dan menjemput dia dari rumah sakit. 

“Kalau mau ke wedangan misalnya, Sugimin itu tidak mau kalau saya tidak ikut. Dia tahunya saya kakaknya Nurhayati,” ujarnya. 

Menurut Nurwanto, hubungan keduanya semakin intens. Sebagai seorang suami, dirinya juga punya rasa cemburu. Pernah suatu ketika, Nurwanto meminta istrinya memilih, antara dirinya dan Sugimin. “Ya sudah, istri saya pilih Sugimin. Katanya, biar pun tua tapi punya jabatan dan kedudukan,” ujarnya.

Tapi anehnya, saat akan diceraikan, Nurhayati malah mengancam Nurwanto. Dia akan mengganggu bila Nurwanto menikah lagi dan melarang bertemu dengan anaknya. Tidak hanya itu, ada juga tuntutan untuk memberi nafkah Rp 3 juta per bulan. “Akhirnya sampai sekarang tidak cerai, tapi sudah pisang ranjang,” ujarnya. Lantas seperti apa mereka berdua menghabisi nyawa Sugimin, ikuti edisi besok. (bersambung)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia