Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Lima Orang Meninggal karena Leptospirosis

03 Mei 2019, 19: 56: 39 WIB | editor : Perdana

Kepala Dinkes Boyolali dr. Ratri S Survivalina

Kepala Dinkes Boyolali dr. Ratri S Survivalina

Share this      

BOYOLALI – Kasus liptospirosis kembali menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali. Tercatat sejak Januari hingga April, dilaporkan terjadi 10 kasus penyakit yang disebabkan kencing tikus itu. Ironisnya lagi, 5 orang diketahui meninggal dunia.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, dr. Ratri S. Survivalina. Dia menyebut kasus liptospirosis terjadi di Kecamatan Sambi, Ngemplak, Musuk, Simo, dan Mojosongo. Dari 10 kasus itu, Kecamatan Ngemplak paling banyak.

”Tiga penderita liptospirosis dari Kecamatan Ngemplak meninggal semua. Sedangkan dua korban meninggal lainya dari Desa Babadan, Kecamatan Sambi dan Dukuh Saren, Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Tingginya angka liptospirosis dipengaruhi musim hujan. Dinkes telah melakukan rapat koordinasi atas kasus ini. Hasilnya, meminta jajaran Puskesmas melakukan survelaince ketat pada sektor kesehatan manusia maupun hewan.

Juga dilakukan pengendalian hewan penyebab penyakit tersebut. Yaitu dengan pengendalian populasi tikus di sawah. Melalui kegiatan gropyokan masal. Kegiatan bakal melibatkan Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali.

”Kami juga melakukan pengobatan ternak yang terinfeksi leptospirosis. Mengingat di Boyolali ditemukan sejumlah kasus hewan sapi terkena bakteri leptospira,” imbuhnya.

Langkah lain, melakukan bio safety dan bio security petugas di sekitar kandang peternakan. Agar penyakit leptospirosis tidak meluas. Pengendalian pada manusia misalnya. Dengan sosialisasi faktor risiko kepada masyarakat.

”Yaitu membudayakan pola hidup sehat serta penanganan luka yang benar. Agar tak menjadi pintu masuk penyakit leptospirosis,” urai Lina.

Diakuinya, sejumlah kasus yang terjadi menimpa para petani. Ternyata, mereka sebenarnya sudah melakukan pola hidup bersih, termasuk cuci tangan. Hanya saja, cuci tangan dilakukan menggunakan air sawah. Ternyata sudah tercemar bakteri leptospira sehingga mereka terkena penyakit itu. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia