Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Menelusuri Situs Keraton Kartasura (1)

Keraton Berubah Fungsi Jadi Hunian, Segaran Jadi Lapangan

04 Mei 2019, 22: 30: 49 WIB | editor : Perdana

Keraton Berubah Fungsi Jadi Hunian, Segaran Jadi Lapangan

Keraton Kartasura memiliki peran penting lahirnya Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Kini saksi sejarah Kerajaan Mataram Islam ini tinggal tersisa beberapa bangunan. Ironisnya meski berstatus cagar budaya, perawatan bangunan terkesan ala kadarnya. Seperti apa kondisinya, Jawa Pos Radar Solo menelusuri beberapa situs tersisa.

SISA peninggalan Kerajaan Kartasura sesuai dengan aslinya kini tinggal benteng inti keraton. Lokasinya di Desa Krapyak, RT 01 RW 10, Kelurahan Kartasura, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Di dalamnya tidak lagi ditemui bangunan-bangunan megah keraton, tapi tinggal ada makam kerabat keraton, abdi dalem dan warga sekitar. Di antara makam tersebut yang paling tersohor adalah makam BRAy Adipati Sedah Mirah, garwa ampil atau selir Paku Buwono IX. Versi lain Sedah Mirah sesungguhnya adalah garwa ampil  Paku Buwono IV (1768-1820).

“Kondisi sekarang ya tinggal makam saja. Karena keraton itu kalau sudah ditinggalkan menjadi simbol kematian,” jelas Juru Kunci Situs Keraton Kartasura, Surya Lismana ditemui koran ini di lokasi setempat.

Juru kunci atau sering disebut juga kuncen itu pun sempat mengajak Jawa Pos Radar Solo untuk menelusuri beberapa situs setempat. Khususnya di dalam benteng batu bata yang melingkar seluas 2,5 hektare mengelilingi sejumlah bangunan dan kompleks pemakaman. 

Sekilas, kompleks ini tak jauh beda dengan berbagai situs sejarah lain berupa pemakaman atau petilasan lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Namun jika diamati, kompleks ini bukan murni lokasi yang sengaja dibuat untuk area pemakaman, melainkan terbentuk lantaran lama tak terurus dan sedikit terlupakan. 

“Kalau ditanya bagaimana makam-makam ini bisa berada di sini sebenarnya saya juga kurang tahu. Tapi kalau menurut cerita sesepuh saya yang juga sebagai juru kunci di sini, makam-makam ini bisa dibilang baru. Kemungkinan jadi makam kampung sebelum 1940. Sebab, setelah merdeka mulai banyak warga ziarah ke sini untuk mengunjungi makam kerabat atau leluhur mereka,” jelas dia.

Surya mengatakan, kompleks benteng ini dikenal dengan sebutan Benteng Srimanganti (benteng dalam). Benteng ini hanya bisa diakses melalui pintu selatan di area tersebut. Dari pintu itu, masyarakat yang belum sekali pun berkunjung ke lokasi ini pasti akan bingung, mengingat saat masuk melalui pintu itu akan langsung disambut dengan rumah-rumah warga sekitar di dalam area benteng. 

“Ya kalau sekarang beberapa bagian di sisa benteng ini digunakan untuk hunian warga. Tapi rata-rata yang ada di dalam benteng ini masih kerabat dari juru kunci dari eyang-eyang zaman dulu,” ungkap Surya.

Di dalam kompleks benteng tersebut sedikitnya ada lima atau enam bangunan rumah. Tiga bangunan di antaranya berada di kanan-kiri pintu masuk benteng. Sementara tiga bangunan lainnya berada di sekitar kompleks pemakaman. Selain itu, di sana juga terdapat satu masjid dan satu sekolah madrasah yang didirikan dalam dekade yang berbeda. 

“Selain hunian warga, di sini juga ada madrasah. Kalau madrasah ini baru, tapi kalau masjidnya sebenarnya sudah cukup tua. Hanya saja memang bukan didirikan pada zaman Mataram Islam di Kartasura, melainkan saat pemerintahan sudah bergeser ke Sala (Keraton Kasunanan) sekitar 1826,” ungkap Surya.

Meski Masjid Hastana Keraton Kartasura ini konon dibangun sebagai bentuk perhatian Keraton Kasunanan Hadiningrat untuk jasa leluhur mereka, mengingat masih berada dalam garis keturunan Mataram Islam. Karena itu, pembangunan masjid ini dibangun bersamaan dengan bangsal berbentuk limasan yang berada di tengah kompleks pemakaman tersebut. 

“Bangsal ini memang yang membuat Keraton Kasunanan. Namun dibangunnya tidak asal, karena bangunan bangsal ini melambangkan Bangsal Sewaka di dalam kompleks utama keraton,” beber dia.

Surya memastikan hanya dua bangunan ini yang strukturnya masih dalam kondisi baik lantaran dibangun jauh sesudah keruntuhan Keraton Kartasura. Sementara sisa peninggalan lainnya hanya berupa reruntuhan dan bekas-bekas pondasi peninggalan kerajaan yang diperintah Amangkurat II hingga Paku Buwono II ini sebelum akhirnya berpindah ke Surakarta. 

“Kalau ini sebagai replika Bangsal Sewaka, tentu di sini pasti ada Dalem Agengnya. Tapi kalau sisa peninggalannya memang sudah tidak ada paling hanya tinggal bekas pondasi tempat tinggal raja,” kata dia.

Surya lantas menunjukkan bekas pondasi yang konon merupakan lokasi peristirahatan Amangkurat II hingga PB II pada periode 1680-1745 silam. Bekas kamar tidur itu memang hanya tinggal sebuah pondasi setinggi setengah meteran yang di atasnya diberi dua batu ukuran sedang yang ditutup kain ungu di kedua ujungnya. 

Di tengah dua batu tersebut diberi angglo ukuran kecil untuk menyalakan ratus dan dupa lainnya pada malam-malam tertentu. Lokasi bekas kamar tidur raja itu pun terbilang rindang lantaran tersembunyi di balik bayangan pohon kepuh ukuran besar amat rindang. 

“Peninggalan otentik dari Keraton Kartasura ya tinggal ini dan beberapa situs lainnya. Seperti sumur keraton di ujung timur benteng dan benteng melingkar ini sendiri (Benteng Srimanganti),” ujar dia. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia