Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Petilasan Keraton Resmi Jadi Cagar Budaya, Fungsi Pemakaman Distop

04 Mei 2019, 22: 35: 47 WIB | editor : Perdana

Petilasan Keraton Resmi Jadi Cagar Budaya, Fungsi Pemakaman Distop

MESKI ada sejumlah pergeseran fungsi dari petilasan Keraton Kartasura menjadi sebuah pesarean (kompleks pemakaman), bekas Keraton Kartasura itu memiliki makna tersendiri bagi masyarakat sekitar. Yang cukup khas adalah tradisi sadranan masal setiap menjelang Ramadan. Biasanya warga setempat berbondong-bondong berziarah ke makam leluhur masing-masing di kompleks pemakaman tersebut. 

Sore itu ratusan peziarah memadati makam yang berada di bekas bangunan keraton sambil membawa bunga-bungaan untuk ditaruh di pusara kerabat masing-masing. Seperti biasa, peziarah melakukan zikir tahlil bersama di Bangsal Pasewakan, kompleks setempat sebelum berkirim doa pada kerabat masing-masing. Konon, ritual sadranan ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam, sejak kemerdekaan Republik Indonesia.

 “Ini sadranan kampung. Jadi warga sekitar yang ada di sini semuanya hadir. Biasanya dilakukan tiap Kamis ketiga bulan Ruwah (menjelang puasa),” ujar Juru Kunci Hastana Keraton Kartasura Surya Lismana di sela kegiatan.

Kegiatan dimulai dengan bersih makam saat pagi hari. Pukul 08.00-12.00 WIB. Kemudian sore hari sekitar pukul 15.00 WIB dilakukan pengajian, setelah mereka selesai nyekar ke leluhur masing-masing. Meski tampak sederhana, semua warga tampak khidmat mengikuti prosesi tersebut. 

“Warga tidak hanya berziarah di makam leluhurnya, tapi juga bisa ziarah di makam Bandara Raden Ayu (BRay) Adipati Sedahmirah yang merupakan selir dari Raja Paku Buwono (PB) IX,” kata Surya.

Jika diamati, jumlah makam di kompleks ini bisa mencapai ratusan makam yang terdiri dari makam kerabat keraton, makam pejuang kemerdekaan, serta makam warga biasa yang hidup di sekitar bekas keraton tersebut. Namun sejak ada UU Cagar Budaya mulai dikeluarkan, kompleks ini tertutup untuk pemakaman, karena mulai difokuskan sebagai bangunan cagar budaya. 

“Sejak 2010 sudah tidak ada aktivitas pemakaman di sana. Karena termasuk benda cagar budaya. Kalau kerabat keraton sering datang dan ziarah ke makam Sedah Mirah seperti Gusti Wandasari Koes Moertiyah, KP Eddy Wirabhumi maupun Gusti Puger,” bebernya.

Keluarnya UU Cagar Budaya membuat kompleks tersebut dikembalikan ke fungsi aslinya sebagai situs budaya peninggalan masa lalu yang sarat akan nilai pendidikan dan kebudayaan. Upaya ini sedikit demi sedikit dapat mengembalikan kebiasaan masyarakat yang dinilai menyimpang dari fungsi asli situs tersebut. Mengingat, dulu lokasi itu juga kerap dipakai untuk melakukan ritual yang jauh dari nilai kesantunan dan kesopanan di masyarakat. 

“Kami masyarakat sekitar yang juga asli warga di sini mendukung langkah pemerintah untuk mengembalikan situs ini ke fungsi aslinya. Mungkin ke depan bisa dilakukan tindakan lebih nyata untuk rekonstruksi cagar budayanya. Kalau soal tradisi sadranan, saya pikir ini sudah menjadi kekhasan daerah ini dan semoga bisa terus dipertahankan,” ujar mantan Wakil Bupati Sukoharjo Mohamad Toha yang juga tokoh masyarakat setempat. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia