Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pendekatan Jonet Sri Kuncoro Melatih Tari Anak-Anak Disabilitas

06 Mei 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TOTALITAS: Jonet Sri Kuncoro dengan telaten melatih anak-anak disabilitas menari.

TOTALITAS: Jonet Sri Kuncoro dengan telaten melatih anak-anak disabilitas menari. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Tidak banyak orang-orang yang terjun melatih tari bagi anak-anak berketubuhan khusus. Sebab, butuh ketelatenan dan keahlian khusus agar mereka bisa menerima instruksi dari sang pelatih. Salah satunya adalah Jonet Sri Kuncoro. Seperti apa lika-liku dia melatih anak-anak istimewa ini?

A. CHRISTIAN, Solo

PULUHAN anak-anak sedang berlatih tari di Teater Besar Institut Senin Indonesia (ISI) Surakarta. Mereka meliak-liukan tubuh mengikuti alunan musik. Dari depan, Jonet Sri Kuncoro, pelatih mereka memberi aba-abakan ketukan. Tak jarang dia harus naik ke atas panggung untuk membenahi siswanya apabila ada gerakan yang salah.

Jonet memang harus telaten karena yang dia latih bukan orang bisa. Mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus dari berbagai daerah di sekitar Solo yang dilatih intens menari. Salah satunya terjun dalam peringatan Hari Tari belum lama ini. 

Ya, meski sudah sering berlatih, bukan berarti anak-anak ini hafal dengan gerakan tarian tersebut. Kadang sekali dua kali terjadi kesalahan. “Biasanya masalah posisi, kemudian penguasaan panggung juga. Kalau soal gerakan mereka sudah hafal,” ujarnya.

Pria kelahiran 56 tahun silam ini mengatakan, grup tari ini baru diciptakan sejak tiga bulan lalu. Mereka berasal dari sekolah luar biasa (SLB) yang berada di kawasan Solo, Sukoharjo, dan Karanganyar.

“Saya tertarik untuk menonjolkan anak-anak ini, karena mereka ini punya pontensi asal diarahkan dengan benar. Buktinya dibalik kekurangan mereka, mereka punya kelebihan dalam hal menari. Belum tentu anak-anak normal seumuran mereka memiliki potensi menari. Makanya tarinya saya buat judul Kami Tak Berbeda,” paparnya.

Apakah mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi? Pria yang juga merupakan dosen tari ISI Surakarta ini mengatakan tidak. Sebab sudah sejak lama dia berkecimpung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk tuna rungu sudah sejak 2004, sedangkan untuk tuna netra sejak tiga tahun silam. “Tapi untuk penggabungan keduanya baru kali ini,” ungkapnya.

Meski sudah tahu cara berkomunikasi dengan anak-anak disabilitas, namun bukan berarti mereka bisa langsung menerima Jonet. Karena anak disabilitas ini biasanya protect terhadap diri mereka sendiri, apalagi dengan orang asing. Untuk itu butuh waktu dalam pendekatan agar tidak ada penolakan.

Karena berasal dari tiga kawasan berbeda, lanjut Jonet, dia sendiri yang berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mencari bibit unggul. Untuk latihan biasanya Sabtu. 

“Jadi durasinya tiap sekolah dua jam. Misal setelah latihan di Solo selesai, saya ke Sukoharjo, setelah itu ke Karangnyar. Baru dua kali saya gabungkan jadi satu,” jelasnya.

Lalu bagaimana cara melatih mereka, Jonet menjelaskan, untuk anak-anak tuna rungu, dia terlebih dahulu mencontohkan bagaimana gerakan tari yang akan dibawakan. Setelah itu mereka diminta untuk menirukan. “Kemudian saya beri aba-aba dengan jari, dari ketukan, sampai pindah formasi,” ujar warga Perumahan Triagan Regency 1 Mojolaban, Sukoharjo ini

Sedangkan untuk tuna netra, dia melakukan metode sentuhan langsung. Dengan cara menggerakkan anggota tubuh penari secara langsung. “Jadi misalnya saya angkat tangganya. Saya gerakkan kakinya. Terus bagaimana cara berjalannya saya tuntun. Sambil saya minta mereka menghitung dalam hati ketukan yang sudah ditentukan. Sambil mendengarkan irama musik,” paparnya.

Ketika latihan awal, karena membutuhkan waktu panjang, khusus anak-anak tuna netra diberi waktu malam. Berbeda dengan anak tuna rungu, bisa dilakukan bersamaan karena meniru gerakan. Meski ada gerakan inti, ada pula momen ketika mereka bergerak sesuai keinginan mereka untuk menunjukkan ekspresi diri. “Bila terus dibimbing, mereka ini memiliki bakat luar biasa,” ujarnya. (*/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia