Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Gas Subsidi Sulit, Konsumen Menjerit

06 Mei 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Gas Subsidi Sulit, Konsumen Menjerit

WONOGIRI - Menjelang Ramadan, gas bersubsidi ukuran 3 kilogram sulit didapat di tingkat eceran wilayah Wonogiri dan Boyolali. Di sisi lain, jumlah kuota gas untuk pangkalan dibatasi 2.000 tabung per bulan.

Sejak sepekan terakhir, masyarakat mengeluhkan sulit mendapatkan gas bersubsidi ukuran 3 kilogram. Meski akhirnya mendapatkan gas tersebut, mereka harus mencari sampai ke beberapa pengecer luar desa.  

“Hari ini lumayan sulit cari gas. Saya cari sampai empat toko baru dapat. Itupun tinggal satu. Sudah sejak beberapa hari terakhir ini sulit cari gas,” kata Wahyudi, pedagang telur dadar keliling di Baturetno, Wonogiri, Minggu (5/5).

Menurut Wahyudi, harga gas masih sama seperti biasanya yakni Rp 18.000 per tabung. Biasanya, tiga sampai empat hari dia menghabiskan satu tabung untuk berjualan. Dia berharap ini tidak sampai berlanjut selama Ramadan hingga Lebaran. Sebab, kebutuhan gas biasanya meningkat.

Suryani, 43, warga Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Wonogiri juga terpaksa membawa pulang kembali tabung gas warna hijau. Sebelumnya, Suryani berniat membeli gas di warung milik Eni Astuti, 40 pengecer gas di tetangga dusun. Namun tidak ada stok. Ini juga dialami warga lain. 

“Ya sebenarnya masih ada satu, tapi tidak saya berikan, karena bukan dari lingkungan sini yang beli,” kata Eni, kemarin.

Eni juga mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi. Di warungnya hanya di jatah lima tabung yang biasa diambilnya dari agen di Krisak, Selogiri. Selama seharian kemarin dia sudah menolak belasan pembeli gas. Kebanyakan pembeli, kata Eni juga mengeluhkan kesulitan mendapatkan gas ukuran 3 kilogram.

“Kalau bulan kemarin masih dijatah 10 tabung, tidak tahu kenapa bulan ini hanya 5 tabung saja,” katanya.

Dikonfirmasi terkait kesulitan warga mencari gas ukuran 3 kilogram Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wonogiri, Wahyu Widayati mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajukan tambahan kuota gas ke Pertamina. Hanya saja belum ada respons. “Kami masih menunggu dari Pertamina,” kata Wahyu, kemarin.

Wahyu mengatakan, saat ini pangkalan gas ukuran 3 kilogram atau gas melon di Wonogiri menjamur. Hal ini merupakan imbas dari adanya kebijakan satu pangkalan maksimal 2.000 tabung per bulan. “Kalau dulu belum ada kebijakan itu pangkalan masih itu-itu saja. Dan satu pangkalan lebih dari 4.000 tabung,” kata Wahyu.

Semula jumlah pangkalan di Wonogiri hanya 450-500 titik. Saat ini jumlahnya membengkak menjadi 900 pangkalan. Bahkan masih terus bertambah. Otomatis, semakin banyaknya pangkalan ini membuat distribusi gas melon menjadi lebih mudah. Termasuk, kebijakan dari Pertamina yang menerapkan satu desa satu pangkalan. 

“Tapi kok masih ada yang kesulitan cari gas. Mudah-mudahan pengajuan penambahan kuota segera disetujui,” ujarnya.

Kondisi sama terjadi di sebagian wilayah Boyolali. Sudah sejak sepekan ini, para pengecer dan pangkalan serta agen gas tak memiliki gas 3 kilogram. Akibatnya, masyarakat yang mengandalkan gas untuk kebutuhan memasak pusing tujuh keliling. Mereka harus menyisir pangkalan untuk mendapatkan sumber api itu. 

Tak jarang, masyarakat harus pergi jauh keluar kecamatan hanya untuk mencari gas subsidi ini. Seperti yang dilakukan Eni Widya, 37, warga Desa Jemowo, Kecamatan Musuk ini mengaku telah menyisir belasan pangkalan di Musuk. Namun hingga perbatasan dengan Kecamatan Boyolali Kota, dia tetap tidak mendapatkan gas bersubsidi.  “Akhirnya baru dapat di Kampung Poncobudoyo, Kecamatan Boyolali Kota,” ujarnya. Kondisi sama terjadi di Kecamatan Ngemplak, Sambi dan beberapa daerah lain.

Terkait kelangkaan gas elpiji3 kilogram di sejumlah daerah di Wonogiri dan Boyolali ini,  Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Budi Prasetyo mengaku belum ada laporan mengenai hal tersebut hingga saat ini. Bahkan dia menegaskan bahwa pasokan gas elpiji 3 kilogram di Solo dan sekitarnya sudah tercukupi. Sebab, Pertamina sudah mendistribusikan sebelum Ramadan. 

“Tidak ada kelangkaan atau keterlambatan distribusi. Bahkan kami sudah tahu kalau kebutuhan akan meningkat. Makanya sudah kami persiapkan. Biasanya pekan ketiga sampai pascalebaran terus meningkat. Sampai saat ini masih aman terkendali dan tidak ada laporan kelangkaan. Saya mengimbau semua pihak terus mengawal distribusi ini,” jelas Budi. 

Sementara itu, Unit Manager Comm dan CSR MOR IV PT Pertamina, Andar Titi Lestari mengatakan, sejak 22-30 April ini pihaknya telah mendistribusikan 9.925 tabung gas ke Kecamatan Sambi. Tiga pangkalan telah diberikan jatah sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Begitu juga di kecamatan Ngemplak mencapai 24.365 tabung telah didistribusikan dalam periode sama. 

“Kami tidak mengurangi jatah. Bahkan kami siap menambah gas sesuai kebutuhan,” ujar Andar.

Bahkan pihaknya merencanakan bakal menambah tabung untuk Boyolali saat Ramadan. Pihaknya telah mengkaji peningkatan konsumsi tabung gas pada saat Ramadan hingga Lebaran nanti.

“Mulai pekan kedua dan empat Ramadan sepekan setelah Lebaran kebutuhan akan meningkat,” kata Andar. 

Sedikitnya 83.466 tabung gas akan ditambahkan pada saat Ramadan. Penambahan tersebut sebanyak 8 persen dari alokasi regular Mei.  Agar pendistribusian kuota tambahan ini tepat sasaran, pihaknya juga akan memonitoring langsung bersama pemkab dan aparat kepolisian. “Selama Ramadan tidak boleh ada kelangkaan gas elpiji,” ujarnya. (kwl/wid/gis/bun)

(rs/kwl/wid/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia