Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo

15 Anak Jadi Korban Asusila

07 Mei 2019, 12: 10: 11 WIB | editor : Perdana

15 Anak Jadi Korban Asusila

SOLO – Kasus asusila yang menimpa anak di bawah umur di Kota Solo selama 2019 ini tergolong tinggi. Dari catatan kepolisian, sedikitnya sudah ada 15 anak menjadi korban pelecehan seksual hingga persetubuhan. Bahkan, satu anak di Kota Solo harus mengandung dan melahirkan, padahal masih berstatus siswa SMA.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satresrim Polresta Surakarta AKP Hastin Mahardjanti mengatakan, dengan adanya kasus yang tergolong tinggi ini, berarti upaya pencegahan dikatakan gagal. Padahal, Kota Bengawan sedang gencar mendeklarasikan diri sebagai kota layak anak (KLA). “Selama ini yang menjadi indikator anak sehat, semua bersekolah, dan kehidupan yang layak,” katanya.

Pemerintah sebenarnya sudah gencar sosialisasi. Namun, pemahaman terhadap pendidikan seksual kepada anak belum dilaksanakan secara maksimal. Dalam arti merata pada tiap-tiap kepala keluarga (KK). Sebab, keluarga memiliki peran penting dalam pencegahan. “Seharusnya sistem pencegahan dari bawah ke atas, bukan dari atas kebawah,” papar Hastin.

Ditambahkan Hastin, taraf pendidikan orang tua bukan menjadi patokan dalam mencegah anak terjerumus seks bebas. Sebab, dari kasus tahun ini terdapat orang tua yang sebenarnya dari sisi intelektual berpendidikan tinggi, namun gagal menjaga sang buah hati sehingga terjerumus kepada seks bebas.

“Artinya, komunikasi dan pengawasan dari orang tua tersebut sangat rendah. Selama ini mereka menganggap kalau anaknya selalu baik, penurut, dan tidak pernah macam-macam. Tapi ternyata di luar melakukan hal di luar dugaan,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Hastin, mulai saat ini pola pikir orang tua harus diubah. Sebab, anak tidak hanya membutuhkan kecukupan materi, namun juga pengawasan, terutama terhadap pergaulan mereka. “Minimal kita tahu, temannya siapa, kemudian di sekolah bagaimana, dan lain-lain,” tutur Hastin.

Lalu, sejak kapan sebaiknya anak mendapat pendidikan seksual, Hastin mengatakan, mengingat situasi yang terus berkembang, sebaiknya pendidikan seksual dilakukan sejak dini. “Karena zaman sekarang anak SD pun sudah pegang smartphone. Jadi mereka sudah bisa mengakses dunia maya secara bebas,” katanya.

Untuk pendidikan seksual sejak dini ini bisa dilakukan dengan memberi penjelasan bagian mana saja yang tidak  boleh dipegang maupun diperlihatkan kepada orang lain. Kemudian kalau sudah mulai masuk masa puber mulai dikenalkan fungsi alat reproduksi, kenapa bisa hamil, dan seterusnya. “Jangan canggung karena ini untuk menjaga anak-anak kita,” urai Hastin.

Hastin mengatakan, kasus pencabulan dan persetubuhan sendiri terjadi berawal dari perkenalan di medsos sehingga akhirnya berujung pacaran. Ketika berpacaran itu, maka korban terbujuk rayu sehingga melakukan hubungan di luar nikah. “Biasanya pelakunya seumuran. Ada pula yang sudah dewasa. Walau ada dasar suka sama suka, tetap tidak ditoleransi, ” katanya

Untuk tahun ini ada juga kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang oknum guru SD di Solo, namun belum sampai berhubungan. Kondisi ini tentu sangat miris. Guru yang seharusnya menjadi pelindung dan pengganti orang tua ketika di sekolah justru melakukan perbuatan di luar kewajaran.

Dari 15 kasus yang masuk tahun ini, lanjut Hastin, tujuh di antaranya sudah ke tahap proses hukum selanjutnya. Sedangkan sisanya masih dalam pendalaman. “Untuk korban kami dampingi secara intensif menurut kebutuhannya, dan didampingi secara penuh, hingga fisik maupun psikisnya sembuh,” tandas Hastin. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia