Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Kasus DBD Melonjak

07 Mei 2019, 17: 43: 34 WIB | editor : Perdana

AKTIF LAGI: Fogging di Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo yang dilakukan Dinkes Klaten.

AKTIF LAGI: Fogging di Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo yang dilakukan Dinkes Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten berusaha menekan kasus demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan data Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, mulai Januari hingga 27 April terdapat 117 kasus penderita DBD. Empat orang di antaranya meninggal dunia. Mengalami kenaikan dibandingkan 2018 yang hanya 20 kasus dengan satu orang meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Cahyono Widodo mengatakan, perubahan musim penghujan ke kemarau membuat jentik nyamuk cepat berkembang. ”Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan mengerahkan petugas kesehatan. Terutama meningkatkan kesadaran gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kami berdayakan mereka untuk peduli lingkungan sekitar,” jelas Kepala Dinkes Klaten Cahyono Widodo kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (6/5).

Paling penting untuk menekan kasus DBD dengan PSN. Termasuk mengerahkan juru pemantau jentik (jumantik) di setiap desa. Memastikan tampungan air di setiap rumah tidak ada jentik nyamuk berkembang.

Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Klaten Wahyuning Nugraheni menambahkan, perubahan cuaca tidak menjadi faktor utama peningkatan kasus DBD. Dia memandang justru karena kurangnya kesadaran masyarakat.

”Sebenarnya kami sudah sosialisasi kepada masyarakat secara intensif. Tetapi masih ada saja yang kurang sadar. Penampungan air yang berpotensi menjadi berkembangbiaknya jentik nyamuk masih ada. Misalnya botol-botol bekas kemasan di luar rumah yang di dalamnya terdapat air, justru terabaikan,” bebernya.

Selain sosialisasi, juga gencar dilakukan pengasapan atau fogging. Namun cara itu tidak efektif. Karena hanya membunuh nyamuk dewasa. sementara jentik nyamuk masih dapat berkembang. ”Tetapi ada juga setelah sosialisasi, tidak jadi fogging dan lebih memilih PSN. Kalaupun tetap ada yang meminta, harus sepengetahuan pihak pemerintah desa,” jelasnya.

Pada 2018 terdapat empat desa endemis DBD. Yakni Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring; Desa Danguran, Kecamatan Klaten Selatan; Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan; dan Desa Janti, Kecamatan Polanharjo. Tahun ini keempat desa tersebut masih dilakukan pemantauan oleh dinkes. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia