Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Jumeri-Imam Bukti Seleksi Pejabat Transparan

08 Mei 2019, 08: 15: 59 WIB | editor : Perdana

SIAP MELAYANI: Gubernur Ganjar Pranowo dan Kepala Disdikbud Jateng Jumeri saksikan penandatanganan pakta integritas pegawai disdikbud, Selasa (7/5). 

SIAP MELAYANI: Gubernur Ganjar Pranowo dan Kepala Disdikbud Jateng Jumeri saksikan penandatanganan pakta integritas pegawai disdikbud, Selasa (7/5).  (BAYU WICAKSONO/RADAR SOLO)

Share this      

SEMARANG – Keputusan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengangkat Imam Maskur dan Jumeri menjadi pejabat tinggi di Pemprov Jateng membuka peluang bagi aparatur sipil negara (ASN) lain agar tidak takut mencoba tantangan baru. Ini membuktikan bahwa pemprov benar-benar transparan dalam proses lelang jabatan.

Ya, dua orang ini awalnya memang bukan siapa-siapa itu. Merangkak dari pejabat tingkat bawah, keduanya berhasil menduduki jabatan penting di Pemprov Jateng. Imam Maskur yang sebelumnya menjabat camat Kedungbanteng, Kabupaten Tegal ini dipercaya menjadi kepala Biro Kesra Pemprov Jateng. Sementara itu, Jumeri yang semula hanya kepala SMKN Bawen, Kabupaten Semarang ini sekarang menjadi orang nomor satu di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Banyak orang tidak percaya bahwa keduanya mampu menduduki jabatan tinggi tersebut. Namun karena proses lelang jabatan terbuka yang dilakukan Gubernur Ganjar Pranowo, keduanya mampu membongkar sekat birokrasi yang biasa berjalan di provinsi itu.

“Saya sendiri juga masih tidak percaya dengan hal ini. Dngan para pesaing yang hebat-hebat, ada profesor dan doktor, namun saya yang dipilih oleh bapak gubernur menjadi kepala disdikbud,” kata Jumeri ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/5).

Pria kelahiran Boyolali, 10 Mei 1963 ini mengatakan, awalnya ia mendengar adanya lelang jabatan kepala disdikbud ini dari grup whatsapp komunitas kepala sekolah. Karena melihat syarat administrasi yang dimilikinya memungkinkan, Jumeri yang saat mendapat kabar itu sedang beribadah umrah di Makkah memantapkan niat untuk mengikuti lelang jabatan tersebut.

“Awalnya tidak mau maju, namun karena dorongan teman-teman saya akhirnya maju juga. Ya hitung-hitung mewakili aspirasi teman-teman seperjuangan,” imbuh Jumeri yang menjabat sebagai ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Jateng itu.

Saat awal mendaftar, Jumeri mengaku sedikit grogi dengan para pesaingnya. Selain tidak memiliki kenalan di birokrasi, para pesaing Jumeri berasal dari pejabat struktural di Pemprov Jateng dan memiliki pangkat cukup tinggi. Ada pula yang bergelar doktor hingga profesor.

“Sementara saya hanya kepala sekolah biasa tanpa eselon, dan hanya lulusan S2. Namun karena sudah mendaftar, saya tidak merasa takut dan tanpa beban. Artinya kalau kepilih ya syukur, tidak ya tidak apa-apa,” tambah Jumeri yang dinobatkan sebagai kepala sekolah terbaik tingkat nasional 2013 tersebut.

Dengan bekal pengalaman sebagai guru dan kepala sekolah serta pengalaman di bidang pendidikan lainnya, Jumeri mantap mengikuti proses seleksi dari awal hingga akhir dengan lancar. Hingga akhirnya, ia masuk dalam tiga besar kandidat yang lolos dan namanya dipanggil oleh Gubernur Ganjar Pranowo untuk dilantik menjadi kepala Disdikbud Jateng, Senin (6/5).

“Senang dan bangga sekali, semoga bisa melaksanakan amanah ini dengan baik. Saya ingin membawa perubahan untuk kebaikan pendidikan di sini, khususnya soal integritas,” terangnya.

Saat ditanya apa kira-kira yang membuatnya terpilih sebagai kepala disdikbud, Jumeri mengatakan jika itu penilaian objektif tim panitia seleksi dan penilaian subjektif dari gubernur. Namun yang jelas, dirinya meyakini bahwa pengalaman dia yang membuat dirinya terpilih.

“Ada salah satu soal dalam tes itu yang tidak mungkin dijawab kalau orang itu tidak memiliki pengalaman sebagai pelaku. Nah, saya ini kan pelaku, saya ini best practice karena pernah jadi guru tidak tetap (GTT), pernah jadi wakil kepala sekolah, menjadi kepala sekolah, mendirikan sekolah dan pengalaman lain. Artinya saya ini orang lapangan yang juga mengetahui seluk beluk tentang persoalan-persoalan di dunia pendidikan,” pungkasnya.

Imam Maskur pun juga tidak percaya dia lolos dalam lelang jabatan dan diberi amanah menjadi kepala Biro Kesra Pemprov Jateng. “Alhamdulillah saya dipercaya mendapatkan amanah yang sangat luar biasa berat ini. Ini merupakan kesempatan kepada saya untuk mewakafkan diri kepada masyarakat Jawa Tengah,” katanya.

Imam mengatakan akan langsung bekerja keras untuk membantu gubernur dalam mewujudkan visi dan misinya. Prioritas awal adalah membuat sistem informasi terpadu terkait dana hibah Pemprov Jateng kepada masyarakat.

“Menurut laporan dari pak wakil gubernur, hibah selama ini sedikit kurang sinkron di lapangan. Untuk itu kami akan membuat sistem informasi terpadu terkait pengelolaan dana hibah dari Provinsi kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Disinggung terkait kontrak kerja selama setahun, baik Jumeri dan Imam Maskur mengatakan tidak masalah dengan hal tersebut. Keduanya menegaskan akan bekerja semaksimal mungkin dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat. “Kalau memang nanti kami dirasa tidak mampu oleh gubernur, kami siap mengundurkan diri,” kata keduanya.

Keduanya juga berharap hal ini bisa memotivasi pegawai lain agar tidak takut bersaing mengikuti lelang jabatan. Saat ini, siapapun orangnya, bisa menjadi pejabat tinggi di lingkungan Pemprov Jateng asal memiliki pengalaman, komitmen, integritas dan kemauan yang tinggi. (lhr/bun)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia