Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Warga Klaten Olah Bekatul Organik Menjadi Susu Berkhasiat Tinggi

08 Mei 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

INOVATIF: Slamet menunjukkan susu bekatul organik dalam kemasan cair dan serbuk 

INOVATIF: Slamet menunjukkan susu bekatul organik dalam kemasan cair dan serbuk  (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Bekatul adalah kulit ari beras dari hasil penggilingan padi yang kedua. Tetapi di tangan Slamet Zubaidi, 40, warga Desa Meger, Kecamatan Ceper, Klaten, mampu diolah menjadi susu yang berkhasiat tinggi. Lantas bagaimana awal mula Slamet membuka peluang usaha susu bekatul organik tersebut?

ANGGA PURENDA, Klaten

MELIMPAHNYA bekatul organik di Desa Meger, Kecamatan Ceper, membuat Slamet Zubaidi tidak puas dengan dijual secara kiloan saja. Hal ini membuat dirinya terdorong untuk mengolah bekatul organik itu dengan berbagai eksperimen. Hingga akhirnya mampu memproduksi minuman susu bekatul organik. 

Pengembangan minuman susu bekatul organik baru dijalani Slamet selama empat bulan ini. Bahan yang digunakan adalah berupa bekatul organik yang menjadi salah satu potensi di desanya. Memang lahan pertanian di Desa Meger sendiri ditanami padi dengan tidak mencampur pupuk atau obat lainnya dari bahan kimia.

Susu bekatul organik buatan Slamet menjadi hal yang baru bagi warga Klaten. Tetapi tidak menyurutkan dia untuk terus mempromosikan susu berkhasiat tinggi itu ke konsumen secara meluas. Terlebih lagi jika hanya menjual bekatul organik dalam kiloan hanya Rp 2.500- Rp 3.000 per kilogram saja.

“Kami gunakan bekatul dari padi yang diolah dengan bahan organik. Jadi dipastikan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Bahkan malah mengandung khasiat yang tinggi bagi kesehatan konsumen,” jelas Slamet ditemui Jawa Pos Radar Solo di sela-sela pameran di Gedung Wanita Klaten beberapa waktu lalu.

Slamet menjelaskan, proses pembuatan susu bekatul organik dilakukan dengan cara merebusnya terlebih dahulu. Yakni, bersamaan dengan 14 rempah-rempah pilihan seperti jahe, pandanwangi, gingseng dan lainnya selama satu jam. Lantas air rebusan dari bekatul itu disaring agar hasilnya lebih halus.

Dari hasil olahan yang dilakukan Slamet itu kemudian dikembangkan menjadi tiga varian rasa. Mulai dari susu bekatul original, susu bekatul cokelat dan susu bekatul buah naga. Dari ketiga varian yang ditambahkan itu dirinya memastikan tidak menggunakan pewarna kimia sama sekali. Mengingat sejak awal semangat inovasi yang dilakukannya ditunjukkan untuk kesehatan konsumennya dengan susu buatannya.

“Jadi seluruh bahan yang digunakan alami. Apalagi bekatul ini mengandung vitamin B kompleks sehingga sangat baik untuk kesehatan. Bisa untuk obat pegal-pegal dan mencegah stroke. Hal ini yang membuat saya mengembangkan dan mengolah susu bekatul organik ini,” jelasnya.

Susu bekatul organik yang diproduksinya juga diyakini olehnya mengandung asam amino lisin. Termasuk protein rice bran lebih tinggi dibanding kedelai, jagung dan terigu. Bekatul juga mampu menurunkan berat badan, menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar gula darah, mengatasi kolestrol tinggi hingga membuat daya tahan tubuh lebih fit.

Dalam sebulan dirinya mampu menghasilkan 100 bungkus susu bekatul organik dengan kemasan 155 mililiter. Per botol dibanderol dengan harga Rp 2.500 saja. Sedangkan untuk kemasan 330 mililiter dipatok Rp 7.000 dan isi 220 militer dengan harga Rp 5.000. Untuk sementara susu bekatul itu dijual ke berbagai sekolah dengan sasaran konsumennya adalah anak-anak SD.

“Jadi memang sengaja kita kembangkan ke dalam berbagai varian rasa. Soalnya konsumen kita adalah anak-anak SD yang lebih tertarik pada rasa-rasa yang ditawarkan. Tetapi tidak menghilangkan khasiat dari susu bekatul organik itu sendiri,” jelasnya.

Saat Jawa Pos Radar Solo mencoba mencicipi susu bekatul organik ini cita rasa rempah-rempah seperti jahe begitu mendominasi. Tidak hanya pada bentuk siap minum saja tetapi juga diproduksi berupa serbuk dalam kemasan 250 gram dengan harga Rp 18.500. Ke depannya Slamet menginginkan pemasaran dari minuman susu bekatul organik ini akan dipasarkan ke luar daerah. (*)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia