Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features
UMS BICARA

Salat, Puasa, Ritme Sirkadian, dan Awet Muda 

08 Mei 2019, 17: 11: 11 WIB | editor : Perdana

Salat, Puasa, Ritme Sirkadian, dan Awet Muda 

Oleh: Yusuf Alam Romadhon, Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta

IBADAH dalam agama Islam yang dalam penerapannya menggunakan patokan waktu matahari adalah salat dan puasa. Salat subuh dimulai ketika terbit fajar (dawn twilight), kemudian waktu duha dimulai setelah matahari sedikit naik setelah terbit, dilanjutkan waktu duhur setelah matahari bergeser dari titik kulminasinya. 

Waktu asar ketika matahari sudah berada di barat, dimana bayangan benda sama dengan tingginya. Waktu magrib adalah ketika matahari tenggelam sampai hilang senja [dusk twilight]. Terakhir waktu isya adalah masuknya waktu malam. Waktu dimulainya puasa adalah ketika fajar dimulai sampai matahari terbenam.

Pertanyaannya apa hubungannya dengan ritme sirkadian tubuh? Serta apa konsekuensinya bagi kondisi kesehatan kita? Dan bagaimana perannya dalam pencegahan penyakit dengan pendekatan ritme sirkadian ini? 

Ritme sirkadian adalah pola dinamis tubuh yang berulang dalam periode waktu 24 jam. Sebenarnya ritme tubuh kita secara mandiri tidak pernah “genap” 24 jam. Ada individu yang ritme sirkadian tubuhnya berulang dalam waktu 23 jam sementara sebagian lainnya 25 jam ketika ditempatkan dalam bungker yang tidak terkena cahaya matahari.

Setiap hari tubuh kita mengalami sinkronisasi dengan jam matahari di mana isyarat waktu yang digunakan sinkronisasi adalah waktu fajar dan senja. Orang tipe pagi yang tidur dan bangun lebih awal berada “tepat waktu” pada jam sinkronisasi dengan isyarat waktu cahaya. Sementara orang tipe malam “terlambat” sehingga ritme tubuh dalamnya tidak “berdansa” secara harmonis dengan ritme jam matahari. Dalam pola aktivitas bangun – tidur manusia termasuk dalam kategori makhluk diurnal. Artinya kondisi fisiologis tubuh normalnya dirancang untuk bangun – beraktivitas – makan di siang hari, dan tidur – istirahat – puasa di malam hari.

Ketika ritme ini terganggu seperti pada orang tipe “kalong” tidur larut malam dan bangun kesiangan, disamping kehilangan waktu sinkronisasi jam dalam dengan matahari, ritme siang tubuhnya mengalami kekacauan, karena “sinkronisasi” harian tidak tuntas.

Karenanya tipe “kalong” dalam jangka panjang dalam berbagai bukti penelitian tidak baik bagi kesehatan, berisiko menderita hipertensi, diabetes, kanker, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Sementara orang tipe pagi lebih menyehatkan. Bahkan menurut para ahli, pekerjaan sif malam [tipe kalong] termasuk dalam kategori “probable carcinogenic”. Karena itu, orang yang disiplin dalam waktu melakukan salat dipastikan termasuk orang tipe pagi, yang berarti lebih menyehatkan. 

Secara fisiologis, tubuh manusia dirancang makan di siang hari, sementara di malam hari adalah berpuasa. Karena itu dalam berbagai penelitian menyebutkan bahwa sama-sama jumlah kalorinya, tetapi pola waktu diet tidak sama menghasilkan kenaikan berat badan yang berbeda.

Bila porsi besar kalori dihabiskan di pagi dan siang, sementara porsi kecil di sore atau malam kurang menambah berat badan dibandingkan bila porsi besar dihabiskan di siang dan sore hari. Sekali lagi, walaupun jumlah kalori harian sama, tetapi bila porsi besar dihabiskan di siang dan sore atau malam peluang menambah berat badan lebih besar.

Lalu apa hubungannya dengan puasa? Pada saat puasa sebenarnya waktu makan dipindah di tepi siang, yakni waktu fajar dan senja. Artinya tidak terlalu jauh dari jam fisiologis seharusnya makan. Kedua, bila tidak menambah lagi porsi makan ketiga, sebenarnya secara jumlah kalori berkurang, tetapi tidak sampai membuat kondisi nutrisi kurang.

Maka, poin penting ada di pernyataan terakhir, pembatasan kalori sampai 30 persen tetapi tidak menimbulkan gizi kurang, membuat umur lebih panjang dan awet muda.

Penjelasannya adalah pembatasan kalori dan “pelanggaran sedikit” dari waktu fisiologis seharusnya makan merupakan konsep hormesis. Artinya menaikkan sedikit beban fisiologis, justru membuat awet muda dan lebih panjang usianya.

Pembatasan kalori membuat keseimbangan protein sel lebih bagus, membuat telomere lebih lambat pendeknya (salah satu ukuran sel-sel yang awet muda) dan stres oksidatif lebih kecil. Keadaan ini secara bersama bersinergi membuat orang jadi awet muda. 

Kondisi ketiga, pada saat puasa, porsi tidur malam berkurang sekitar 1-2 siklus dari total 5 – 6 siklus. 1- 2 siklus tidur ini diganti dengan qiyamul lail [salat malam]. Bila salat malam dengan benar dan khusyuk, dengan mengambil analogi pada studi meditasi, ketika orang mencapai status meditatif (setara status khusyuk), saturasi O2 darah berada dalam keadaan tertinggi.

Keadaan ini berarti, pernapasan seluler berada dalam keadaan sangat efisien, sehingga O2 sedikit sekali digunakan oleh sel-sel tubuh. Pernapasan seluler yang sangat efisien akan menghemat cadangan antioksidan tubuh dan stres oksidatif seluler berada dalam keadaan paling rendah.

Kondisi sebaliknya ketika marah, atau depresi dalam jangka panjang, membuat stres oksidatif naik, cadangan antioksidan tubuh turun, membuat pelakunya berada dalam keadaan percepatan penuaan. Dalam penelitian, keadaan depresi membuat umur biologis sepuluh tahun lebih tua dari yang seharusnya. 

Karena itu, sebagai kesimpulannya orang yang salat tepat waktu, khusyuk, rajin menjalankan puasa, serta bisa khusyuk saat salat malam, berada dalam keadaan paling lambat laju proses penuaannya.

Mungkin inilah yang menjelaskan mengapa Nabi Muhammad SAW ketika wafat sedikit sekali ubannya. Padahal usia beliau ketika wafat di atas 60 tahun.

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia