Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Berhati-Hati saat Imsak, Masih Boleh Makan Asal Belum Azan

09 Mei 2019, 16: 25: 59 WIB | editor : Perdana

MASIH BERFUNGSI: Jam matahari istiwa’ yang berada di halaman Masjid Agung Surakarta pernah jadi patokan azan.

MASIH BERFUNGSI: Jam matahari istiwa’ yang berada di halaman Masjid Agung Surakarta pernah jadi patokan azan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

ADA kalanya pengingat sahur dari masjid terdekat tidak terdengar, atau alarm yang dipasang tidak berbunyi. Alhasil, bangun sahur telat dan akibatnya tidak maksimal dalam makan sahur. Sering muncul pertanyaan kapan waktu yang tepat untuk berhenti makan sahur? Apakah saat masuk waktu imsak atau saat azan Subuh berkumandang?

Ustadz Ali Mashudi Al Hafidz, Wakil Kepala SDIT Nur Hidayah Bidang Pendidikan Alquran mengatakan batas akhir makan dan minum saat sahur dapat merujuk pada Quran Surat Al Baqoroh ayat 187. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dimulainya puasa saat terbit fajar, atau saat waktu Subuh tiba.

”Kaitannya dengan istilah imsak, penyebutan istilah imsak untuk 10 menit sebelum adzan sebenarnya tidak tepat. Karena kata imsak itu artinya menahan makan dan minum atau mulai berpuasa. Maka lebih baik istilah imsak ini diganti dengan tanbihun, yang berarti hati-hati,” beber Ustadz Ali kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Makna istilah imsak yang sebenarnya berarti sudah mulai berpuasa. Padahal saat imsak belum dimulai berpuasa. Penggunaan istilah imsak yang selama ini dipakai kurang tepat. Karena saat imsak tiba masih boleh melanjutkan makan dan minum sahur.

”Kalau kata imsak diganti dengan tanbihun, maka jelas selaras antara istilah dengan makna. Jadi intinya, masih boleh makan dan minum meskipun sudah imsak. Tapi diusahakan tidak nabrak dengan azan Subuh,” sambung Ustadz Ali.

Jika azan Subuh sudah berkumandang dan sudah terdengar adzan tersebut, Ustadz Ali menegaskan makan dan minum sahur harus dihentikan. Bahkan empat mahdzab sepakat akan hal tersebut. Bahkan makanan yang masih di mulut tapi sudah azan harus dimuntahkan.

”Memang ada hadist shahih yang menerangkan bolehnya meneruskan makan dan minum sahur ketika terdengar azan. Tapi setelah diteliti ternyata hadist itu tidak ada sangkut pautnya dengan sahur. Karena hadist itu di luar Bulan Ramadan,” imbuhnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka Ustadz Ali menyimpulkan makan dan minum sahur berakhir saat azan Subuh tiba. Jika kebetulan masih mengunyah makanan saat azan Subuh sudah berkumandang, maka makanan tersebut harus dimuntahkan. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia