Selasa, 15 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features
Eksistensi Bangunan Keraton Surakarta (1)

Tapa Pepe di Alun-Alun Lor, Umumkan Perang di Alun-Alun Kidul

11 Mei 2019, 22: 15: 16 WIB | editor : Perdana

Tapa Pepe di Alun-Alun Lor, Umumkan Perang di Alun-Alun Kidul

Hari Jadi Kota Solo yang diperingati tiap 17 Februari menjadi pengingat warga Kota Bengawan akan peristiwa boyong kedaton (pindahan keraton, Red) dari Kartasura ke Desa Sala pada 1745 silam. Pindahnya pusat pemerintahan Keraton Kartasura ke Desa Sala kala itu menjadi tanda dimulainya pemerintahan baru, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Setelah 274 berlalu, apa saja perubahan dari awal berdiri hingga kini? Berikut penelusuran Jawa Pos Radar Solo.

KERATON Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang berada 1 kilometer selatan Balai Kota Surakarta masih menjadi daya tarik wisata sejarah. Mereka bisa melihat jejak kerajaan penerus Dinasti Mataram Islam ini sembari belanja di dua pasar legendaris di Kota Bengawan, yakni Pasar Klewer dan Pasar Gedhe.  

“Keraton sebagai pusat pemerintahan menjadi poros utama bagi kehidupan masyarakat sekitar. Oleh karena itu pusat-pusat ekonomi juga akan tumbuh subur di sekitarnya. Ini konsep pemerintahan keraton yang mengayomi masyarakatnya,” ujar Sentana Dalem Keraton Kasunanan Surakarta GKR Wandansari Koes Moertiyah.

Adik kandung Paku Buwono XIII yang akrab disapa Gusti Moeng ini menjelaskan, keberadaan pasar-pasar itu menjadi bagian penting dari konsep utama dan penempatan bangunan keraton yang sarat filosofi. Keberadaan keraton akan memunculkan pusat-pusat kebudayaan hingga perekonomian baru. 

“Waktu boyongan dari Kartasura tahun 1745 dulu itu yang ikut berpindah bukan hanya bangsawan dan pejabat keraton saja, tapi semua rakyat juga ikut berpindah dan membentuk pemukiman-pemukiman baru di sekitar keraton,” papar dia.

Sebelum menjelaskan bentuk dan tata letak bangunan, Gusti Moeng memaparkan bagaimana proses lokasi itu ditemukan untuk dibangun Keraton Surakarta. Berdasarkan literatur yang pernah ia dapatkan dan keterangan dari para pendahulu keraton, sebelum boyongan dari Kartasura ke Desa Sala pada 1745, beberapa pejabat keraton mulai mengawali perjalanan untuk menemukan lokasi baru dengan cara terus berjalan ke timur dari arah Kartasura.

 “Nah, dari sini ada tiga usulan lokasi pendirian keraton. Pertama ada di Kadipolo, Wono Sewu, dan Desa Sala. Tapi dari penerawangan ahli kala itu, Desa Sala ini yang paling strategis dan dianggap bisa berumur panjang,” kata dia.

Setelah dipertimbangkan dengan masak, Paku Buwono II sepakat dengan lokasi baru itu. Mengingat, di Desa Sala kala itu merupakan desa yang dipimpin seorang demang yang dulunya mengabdi untuk Kerajaan Pajang, para punggawa keraton lantas meminta restu demang tersebut. Demang inilah yang  biasa dikenal dengan sebutan Ki Gede Sala. 

“Kalau tidak salah Ki Gede Sala itu kediamannya ada di Bantaran Sungai Bengawan Solo, di sekitar  Kedung Lumbu,” kata Gusti Moeng.

Dalam Babad Tanah Jawa, sambung dia, proses pengurukan dimulai tahun 1742. Pengurukan tersebut dilakukan, mengingat Desa Sala adalah desa kecil yang dikelilingi rawa. Tanah uruk tersebut berupa pasir dari Gunung Merapi. Karena itu banyak yang percaya bahwa lokasi baru itu akan subur dan mampu bertahan lebih dari 200 tahun. Tiga tahun dipersiapkan, akhirnya boyong kedaton dapat dilakukan pada 1745. 

“Pasca boyongan itu bangunannya masih sederhana. Pendapa dan Dalem Ageg saja masih beratap kajang. Benteng keraton juga masih ala kadarnya karena tingginya baru ada satu meteran,” ungkap dia.

Kendati demikian, penataan kawasan sudah dilakukan sejak masa perpindahan itu. Konsep bangunannya pun tentunya tak beda jauh dari bangunan keraton yang lama. Bahkan bisa dibilang mengadopsi bangunan keraton lama. 

“Kalau konsep bangunannya ya memang sudah ada mulai dari depan hingga belakang keraton. Hanya saja pembangunannya belum sempurna karena PB II hanya bertahan beberapa tahun pasca kepindahan sebelum akhirnya wafat dan diteruskan oleh PB III. Nah, pembangunan bangunan utama keraton itu banyak dimulai pada masa PB III, sementara pembangunan kawasan dimulai saat PB IV menjabat sebagai raja kasunanan,” kata Gusti Moeng.

Pembangunan keraton akhirnya dilanjutkan oleh PB IV dengan pengembangan kawasan pendukung. Kawasan ini dilakukan dengan pembangunan kompleks Baluwarti bagi pejabat kerajaan. Dari sana sejumlah bangunan yang namanya masih dikenal hingga saat ini dimulai.

“Pembangunan PB IV seperti Mloyosuman, Sasono Mulyo, Purwodiningratan, Kayonan, dan lainnya, semua permukiman di dalam Benteng Baluwarti. Kalau di bagian dalam itu ya seperti Bangsal Semarakata dan Marcukundo,” jelas dia.

Menurut Gusti Moeng, setiap raja yang menjabat memiliki konsep dan arah pembangunan masing-masing. Namun hampir dapat dipastikan jika semua raja memiliki karya masing-masing dalam penambahan atau perbaikan keraton. Meski demikian, pembangunan cukup masif dilakukan pada periode kepemimpinan PB IX dan PB X. 

“Zaman PB IX penambahan seperti Bangsal Srimanganti, Sasana Wilapa, dan perbaikan Keputren. Pembangunan besar-besaran selanjutnya diteruskan pada masa PB X. Seperti berbagai gapura di sudut-sudut kota hingga perbaikan pagelaran dengan pembuatan 48 pilar karena bertepatan dengan hari jadi PB X,” jelas Gusti Moeng. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia