Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features
Eksistensi Bangunan Keraton Surakarta (2)

Bangunan Keraton Mulai Beralih Fungsi

11 Mei 2019, 22: 19: 11 WIB | editor : Perdana

Bangunan Keraton Mulai Beralih Fungsi

Dari sederet kisah masa lampau itu banyak hal yang belum diketahui masyarakat bagaimana fungsi bagian-bagian keraton itu mengambil peranan dalam perjalanan kerajaan penerus takhta Mataram itu. Sudah 274 tahun berlalu, banyak bangunan yang sudah beralih fungsi dan juga berubah bentuknya. Salah satunya seperti alun-alun utara dan selatan Keraton Kasunanan.

Jika ditengok saat ini, Alun-Alun Utara (Alun-Alun Lor) Keraton Kasunanan Surakarta telah menjadi lahan alternatif untuk menampung pedagang Klewer sisi timur yang sedang menanti dibangunkan pasar baru oleh pemerintah setempat. Bilik-bilik bangunan permanen dibuat berjejer memenuhi hampir seluruh bagian lapangan yang dulunya dipakai sebagai tempat menghadap raja. 

“Alun-alun Lor itu dulu banyak dipakai untuk menggelar berbagai kegiatan adat. Bahkan kadang kala ada juga masyarakat atau pejabat sekitar yang mengabdikan diri pada raja meminta petunjuk kepada raja dengan cara melakukan tapa pepe,” kata Gusti Moeng.

Topo pepe adalah sebuah ritual khusus yang dilakukan oleh siapa saja yang meminta keadilan pada raja. Para pelaku tapa pepe berjemur diri di alun-alun lor, atau bisa juga dilakukan di sela-sela ringin pager (beringin pagar). 

“Ini masyarakat biasa atau pejabat di wilayah kekuasaan kasunanan. Biasanya mereka mengalami masalah di daerah masing-masing dan berencana meminta solusi pada raja. Bahkan ada juga yang meminta hukuman,” jelas dia.

Dengan melakukan tapa pepe, secara otomatis si petapa akan mendapat perhatian dari raja. Raja yang biasa meluangkan waktunya untuk menemui para pejabat pemerintahan di Pagelaran biasanya akan meluangkan waktu memandangi sekitar dari lokasi lebih tinggi itu. Seperti biasa, alun-alun adalah lokasi terbuka yang hanya ramai saat ada perhelatan saja. Karena itu, jika di hari biasa ada pemandangan tidak lazim, raja pasti akan langsung mengetahui. 

“Alun-alun itu kan dulunya bukan rumput seperti sekarang tapi dari pasir. Jadi kalau siang sangat panas dan kalau malam dingin. Ini dikembalikan pada kodrat dunia bahwa awalnya hanya ada gelap dan terang. Kalau pemberian ringin kembar itu merupakan simbol perempuan (Jayadaru) dan laki-laki (Dewadaru) karena manusia diciptakan hanya dalam dua bentuk ini,” ujar Gusti Moeng.

Sebuah pergeseran makna dan pemanfaatan bagi masyarakat sekitar juga terjadi di Alun-Alun Selatan (Alun-Alun Kidul) Keraton Kasunanan Surakarta. Melihat kondisinya saat ini, lokasi yang dulunya dianggap sebagai alam kesunyian oleh keraton itu kini penuh dengan aktivitas. Bahkan bentuknya sudah seperti pasar rakyat dengan banyak traksaksi jual beli di dalamnya. 

“Alun-alun kidul ini awang-uwung (dunia fana, kosong dan sunyi, Red). Ini filosofi hidup manusia pasca kematian sehingga dulu lokasi itu memang tidak digunakan untuk berbagai kegiatan adat keraton. Kegiatan rutin yang dilakukan di kawasan itu hanyalah latihan perang dari prajurit keraton,” jelas dia.

Oleh sebab itu, di masa kejayaan kasunanan dulu, jika raja singgah di siti inggil kidul dan duduk menghadap ke selatan, artinya raja tersebut sedang mengumumkan perang. Hal ini sangat jarang terjadi, namun jika dilakukan berarti kondisi keamanan negara (keraton) dalam masa genting. “Pokoknya itu tandanya, kalau raja duduk menghadap ke Selatan di Siti Inggil Kidul artinya akan perang,” tutur Gusti Moeng. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia