Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Semangat Jamaah Tunanetra Tadarus Alquran

12 Mei 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

TEKUN: Jamaah tunanetra Lembaga Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Bhakti Candrasa mengaji menggunakan Alquran braille.

TEKUN: Jamaah tunanetra Lembaga Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Bhakti Candrasa mengaji menggunakan Alquran braille. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Keterbatasan fisik tidak dijadikan alasan bagi jamaah tunanetra Lembaga Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Bhakti Candrasa enggan berlomba berburu pahala Ramadan. Mereka berusaha keras bisa khatam di bulan suci ini.

A. CHRISTIAN, Solo

PULUHAN jamaah khusyuk membaca Alquran usai Salat Duhur berjamaah di masjid kompleks Lembaga Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra Bhakti Candrasa Jalan Dr. Radjiman, Kota Solo.

Namun, kegiatan tadarus tersebut tidak menggunakan Alquran pada umumnya. Jamaah tunanetra tersebut mengaji dengan cara meraba lembar demi lembar Alquran braille. Dalam satu hari, mereka membaca Alquran sebanyak satu juz. 

“Tadarus dimulai awal Ramadan. Sehari bisa aca satu juz. Jadi di akhir puasa sudah khatam,” ujar salah seorang pembimbing tadarus Sartono.

Alquran braille tersebut merupakan hibah dari Kementerian Agama (Kemenag) beberapa tahun silam. Meski bentuknya terlihat sama dengan huruf braille latin, namun artinya. “Sama bentuk tapi beda fungsi. Sama-sama titik, tetapi ketika belajar latin dengan tulisan Arab beda fungsi. Sehingga yang kita tekankan memberikan daya peka terhadap perabaan. Hal ini agak memerlukan waktu lama,” urainya.

Agar jamaah tunanetra dapat lancar membaca Alquran braille, pada tahap awal, instruktur memberikan pelajaran pengenalan masing-masing huruf. Berapa lama mereka mengusai teknik baca huruf hijaiyah dengan braille? Sartono mengatakan tergantung masing-masing individu. Ada yang cepat menangkap, tapi ada pula butuh bimbingan ekstra.

“Latar belakang pendidikan berpengaruh pada daya tangkap mereka. Kuncinya adalah ketekunan. Tapi pada umumnya teman-teman kita ini bisa paham dan fasih membaca Alquran braille antara enam bulan sampai satu tahun,” papar dia.

Yang menjadi tantangan yakni melawan rasa bosan belajar membaca Alquran braille. Sebab itu, para instruktur harus punya teknik khusus menjaga semangat para jamaah tunanetra. 

Selain tadarus, jamaah tunanetra juga mendapatkan siraman rohani lewat pertemuan yang membahas masalah akidah, fiqih, dan sebagainya. Termasuk buka bersama dan Salat Tarawih berjamaan. 

“Harapan kita, dengan kegiatan positif ini para tunanetra lebih bersemangat beribadah di bulan suci. Selalu kita tekankan bahwa mereka tidak berbeda dengan masyarakat lainnya,” kata Sartono. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia