Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Eksistensi Bangunan Keraton Surakarta (4)

Gerbong Raja Sudah Pakai Teknologi Pendingin Ruangan 

12 Mei 2019, 12: 15: 59 WIB | editor : Perdana

BARANG LANGKA: Kondisi gerbong kereta bersejarah milik Keraton Kasunanan Surakarta mulai berkarat. 

BARANG LANGKA: Kondisi gerbong kereta bersejarah milik Keraton Kasunanan Surakarta mulai berkarat.  (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Aset Keraton Kasunanan Surakarta yang satu ini memberikan gambaran status sosial bangsawan kala itu. Adalah dua unit gerbong kereta peninggalan Paku Buwono (PB) X yang dimuseumkan di Alun-Alun Selatan.

SELAMA ini perawatan gerbong bersejarah tersebut dilakukan oleh abdi dalem. “Setiap hari ada abdi dalem yang diperintahkan melakukan perawatan di sana. Membersihkan debu di gerbong, rumput, dan sebagainya,” jelas adik Raja Keraton Solo PB XIII Hangabehi, GKR Wandansari Koes Moertiyah, Sabtu (11/5).

Kemampuan PB X merefleksikan kemajuan zaman membuat Keraton Kasunanan Surakarta mengalami masa transisi dari kerajaan tradisional menjadi modern. Pembangunan keraton begitu pesat di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Itu ditandai dengan dibangunnya ejumlah sekolah, pasar, hingga gedung kemasyarakatan.

PB X juga menjadi orang pertama di Indonesia yang memiliki mobil. Bahkan, dalam catatan sejarah panduan balap mobil yang dicetak pada 1917, tertulis Alun-Alun Selatan Keraton Kasunanan sempat dipakai sebagai arena balap mobil di era PB X. 

Aturan balap mobil itu ditulis dalam Sporvereeniging "De Roode Lelie", Reglement der Auto-Festan Te Solo, op Zundag, den 25 Nov 1917. Yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Perlombaan olahraga De Roode Lelie.

“Memang PB X cukup inovatif di bidang transportasi. Orang-orang belum punya mobil, beliau sudah punya. Koleksinya sekarang masih ada di dalam keraton,” ujar perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng.

Bukan hanya mobil, simbol modernitas di zaman PB X bisa dilihat dari keberadaan dua unit gerbong yang di zamannya menjadi alat transportasi paling popular.

“Kalau cerita dari orang tua zaman dulu, ya (gerbong kereta, Red) memang dipesan khusus. Yang lebih dulu datang gerbong kereta untuk sarana transportasi raja ketika plesiran ke berbagai daerah. Sekarang disimpan di sisi timur Alun-Alun Kidul. Satu gerbong lagi untuk membawa jenazah PB X menuju Imogiri, Jogjakarta untuk dikebumikan. Saat ini disimpan di sisi barat Alun-Alun Kidul,” paparnya.

Gerbong kereta untuk plesiran, lanjut Gusti Moeng, dibuat sekitar 1900. Alat transportasi ini begitu mewah. Material pembuatnya dari besi, layaknya gerbong zaman sekarang. Belum lagi interiornya yang sudah kekinian. Padahal kala itu, kereta lainnya masih terbuat dari kayu.

Sedangkan gerbong kereta untuk membawa jenazah PB X yang mangkat pada Februari 1939, merupakan buatan 1914. Gerbong kereta tersebut hanya dipakai sekali untuk membawa jenazah PB X dari Kota Solo ke Imogiri, Jogjakarta. 

“Kalau cerita yang saya tahu, dari keraton, jenazah PB X dibawa naik kereta kuda menuju bangunan milik keraton di sekitar rel bengkong Jalan Slamet Riyadi (kini Hotel Megaland, Red). Dari sana ditandu oleh prajurit dan abdi dalem keraton dan diikuti oleh seluruh keluarga keraton menuju Stasiun Purwosari. Dari Stasiun Purwosari lantas diberangkatkan ke Stasiun Tugu, Jogjakarta. Di sana sudah disambut keluarga Kasultanan Jogjakarta. Setelah penghormatan terakhir, jenazah dibawa ke kompleks pemakaman raja di Imogiri dengan kereta kuda,” urainya.

Pasca meninggalnya PB X, dua gerbong kereta itu tak lagi digunakan. Kemudian di museumkan sebagai aset PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hingga beberapa dekade setelahnya, tepatnya pada masa pemerintahan PB XII, gerbong kereta dikembalikan sebagai aset Kasunanan Surakarta. 

“Waktu pengiriman gerbong plesiran saya ikut mengawal bersama ayah saya (PB XII, Red) dari Semarang. Kalau untuk gerbong jenazahnya, saya sama PB XII dan keluarga menunggu di Stasiun Jebres karena gerbongnya dikirim dari Jogjakarta. Dari Stasiun Jebres baru dibawa pakai truk ke dalam keraton. Karena dulunya gerbong itu dipakai membawa jenazah PB X, maka sengaja disimpan di Alun-Alun Kidul yang filosofinya sebagai alam fana,” beber Gusti Moeng.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, beberapa bagian gerbong kereta mulai berkarat. Kondisi tersebut cukup disayangkan pengamat kereta api 

Tintony Rizan Ghani. “Sebenarnya sayang juga melihat gerbong bersejarah dalam keadaan seperti ini,” ucapnya.

Tony memastikan, dua gerbong kereta milik Keraton Kasunanan Tersebut merupakan buatan Belanda dan diproduksi oleh perusahaan kereta swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau disebut NIS.

“Yang jelas ini gerbong pabrikan Belanda yang ditarik oleh lokomotif uap. Kalau tidak percaya silakan tengok rodanya,” pintanya.

Karena penasaran, Jawa Pos Radar Solo mengecek bagian roda gerbong yang dimaksud. Memang terlihat tanda NIS meskipun tulisannya memudar. NIS pula yang mengembangkan jalur kereta api Semarang-Jogjakarta via Surakarta.

“NIS ini yang membangun stasiun pertama di Solo, yakni Stasiun Purwosari. Juga membangun Stasiun Solo Balapan sisi utara dan Stasiun Kota. Termasuk meneruskan pengelolaan jalur trem dalam kota via Jalan Slamet Riyadi,” kata Tony.

Dia juga tak meragukan kemewahan material bodi dan fasilitas gerbong kereta milik Keraton Kasusnan tersebut. “Sudah ada jendela kaca dan kursi penumpang yang penataannya berbeda dengan kereta lainnya di masa itu. Bagaimana tidak mewah,” jelasnya.

Fasilitas tersebut masih ditambah pendingin  ruangan dengan memberikan rongga pada bagian bodi kereta untuk memasukkan balok es batu guna menyejukkan ruang gerbong. 

Namun, lagi-lagi Tony menyayangkan lokasi penyimpanan garbing kereta yang ala kadarnya. Bahkan terkesan kumuh. Bagian atap yang melindungi gerbong dari terik matahari dan terlihat usang. Selain itu, pabar pembatas hanya dibuat dari tali.

Kondisi tak jauh berbeda dialami gerbong yang tadinya digunakan membawa jenazah PB X. Padahal gerbong tersebut dipesan khusus kepada NIS oleh pihak keraton. “Gerbongnya dibuat blong-blongan (tanpa kursi, Red) biar peti jenazah bisa masuk. Beda sama gerbong untuk plesiran yang ada banyak kursi,” ungkap Tony.

Melihat kondisi dua gerbong kereta bersejarah itu, Tony berharap pihak keraton maupun pemerintah lebih peduli untuk melakukan perawatan. Sebab, aset gerbong kereta setua itu sudah tidak ada lagi di Indoensia. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia