Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

E-Parkir Coyudan Dicueki, Alat Tak Difungsikan

13 Mei 2019, 11: 35: 53 WIB | editor : Perdana

DIPERKETAT: Keberadaan alat e-parkir bertujuan untuk mencegah kebocoran retribusi parkir.

DIPERKETAT: Keberadaan alat e-parkir bertujuan untuk mencegah kebocoran retribusi parkir. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Penerapan parkir elektronik (e-parkir) di kawasan Coyudan-Pasar Singosaren dinilai  belum optimal. Asosiasi Parkir Surakarta (Asparta) pun meminta Pemkot Surakarta untuk mengevaluasi. 

Ketua Asparta Ngadiyo menilai bahwa kurang maksimalnya penerapan e-parkir di titik tersebut disebabkan banyak pengguna parkir enggan mendatangi mesin parkir elektronik tersebut. “Di kawasan Coyudan pemilik mobil enggan berjalan mendatangi alat yang dipasang di lokasi parkir. Padahal jaraknya hanya 20-30 meter saja tidak mau,” beber dia, kemarin (12/5).

Berdasarkan laporan petugas parkir setempat, keengganan pengguna parkir untuk transaksi e-parkir secara mandiri pada akhirnya berpengaruh pada pemasukan parkir. Karena itu, di akhir waktu parkir juru parkir sengaja meladeni pengguna parkir secara manual. Anehnya, banyak pengguna jasa parkir yang lebih senang dilayani secara manual dari pada e-parkir secara mandiri. 

“Kalau di sebagian ruas Jalan Gatot Subroto, terutama seputaran Pasar Singosaren, parkir elektronik ini kurang berjalan dengan baik. Untuk parkir roda empat bahkan tidak jalan dan sebagian tetap dilayani secara manual,” kata Ngadiyo. 

Akhirnya, jukir terpaksa menyesuaikan kebiasaan pengguna jasa parkir tersebut. Mengingat alat e-parkir di Coyudan, diketahui telah rusak. “Alatnya nggak dipakai lagi sama para jukir. Digeletakkan begitu saja. Jadi begitu mobil datang, langsung diberi karcis manual. Yaitu karcis parkir tepi jalan umum (on street) zona C, seperti yang digunakan di tempat-tempat lainnya,” kata Ngadiyo. 

Oleh sebab itu pihaknya meminta pemerintah melakukan evaluasi mengingat pemberlakuan e-parkir di dua titik tersebut dianggap tidak maksimal. “Kalau e-parkirnya sudah tiga tahun ini. Tapi juru parkir di perempatan Coyudan sampai perempatan Singosaren sejak setahun sampai enam bulan terakhir sudah tidak diwajibkan pengelola, untuk memberlakukan e-parkir,” jelas Ngadiyo. 

Kedua persoalan itu lantas menjadikan asparta meminta pemkot berhati-hati dalam mengimplementasikan e-parkir di lokasi lain. Apalagi pekan lalu pemkot telah mulai memberlakukan e-parkir di Jalan Honggowongso, usai sebelumnya berencana memperluas e-parkir di lokasi parkir zona C lainnya. 

“Alat e-parkir di Jalan Honggowongso itu diharapkan pengelola dan asosiasi bisa dioperasikan dan tidak membuat ribet jukir. Jadi efektif untuk mengurangi kebocoran pengelolaan uang parkir di lapangan,” ujar Ngadiyo. 

Menanggapi hal tersebut, Kasi Parkir Umum dan Khusus Dinas Perhubungan Kota Surakarta Henry Satya menilai bahwa kurangnya kesadaran masyarakat tersebut menjadi faktor utama kurang optimalnya penerapan e-parkir. “Alat e-parkir di Coyudan sudah lama rusak. Nanti akan kami ganti, sekalian menunggu pengadaan alat untuk e-parkir di lokasi lain,” kata Henry. 

Disinggung soal evaluasi tidak efektifnya e-parkir permanen di kawasan Coyudan-Singosaren, Henry mengungkapkan bahwa alat yang terpasang permanen di beberapa titik lahan parkir itu bisa dipindahkan. 

“Yang permanen itu cuma boks-nya saja. Alatnya bisa diambil dan dioperasikan jukir secara mobile. Sebenarnya boks itu hanya berfungsi mengisi daya, manakala baterai alatnya sudah habis,” tutur Henry. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia