Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Caleg DPR RI Pan Jateng Rontok, Gerindra Kaji Bukti Kecurangan

13 Mei 2019, 11: 49: 21 WIB | editor : Perdana

Caleg DPR RI Pan Jateng Rontok, Gerindra Kaji Bukti Kecurangan

SOLO - Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Gerindra akan segera melakukan evaluasi terkait kegagalan mengirimkan wakilnya ke Senayan dari daerah pemilihan (dapil) IV (Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri) dan dapil V (Solo, Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo). Mereka mengakui bahwa pertarungan merebut satu kursi di dua dapil ini sangat ketat.

Pada Pemilu 2014 lalu, PAN berhasil menempatkan Laila Istiana mewakili dapil IV, sementara untuk dapil V diisi Mohammad Hatta. Namun, pada Pemilu 2019 ini, tidak ada satu pun wakilnya berhasil lolos ke Senayan. Meski dua incumbent tersebut maju kembali.

Tidak hanya di dua dapil. Berdasar hasil rekapitulasi KPU Jateng, dari data DB-1, PAN tidak mendapat satu pun kursi dari seluruh dapil di Jateng. Padahal, pada Pemilu 2014, PAN sempat mengirimkan tujuh wakilnya ke DPR RI.

Prediksi dari DB-1, ada 77 caleg dari Jateng berpotensi melaju ke Senayan. PDIP meraih 26 kursi, disusul PKB 13 kursi, Golkar 11 kursi, dan Gerindra 8 kursi. Selanjutnya PKS, Demokrat dan Nasdem masing-masing 5 kursi dan terakhir PPP 4 kursi. 

Sementara Partai Gerindra meski di Jateng mendapat delapan kursi DPR RI, namun di dapil IV dan V, kursi mereka juga lepas. Pada Pemilu 2014, dari dua dapil ini diisi masing-masing satu wakil. Mantan Bupati Sukoharjo Bambang Riyanto yang dicalonkan dari dapil V berhasil lolos, sementara dapil IV diwakili Saraswati Djojohadikusumo. Namun, pada Pemilu 2019 ini, dua wakil mereka tak kuasa menghadapi kompetisi. Bambang Riyanto harus terjegal, sementara di dapil IV yang menurunkan Waketum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono harus terdepak juga.   

Sekretaris DPW PAN Jateng Umar Hasyim mengakui kerasnya persaingan di dua dapil ini. Bahkan, Umar yang diajukan partainya maju di nomor urut 1 dari dapil V pun tak kuasa menembus kursi Senayan.

“Meski secara resmi dari KPU belum mengumumkan, namun kalau melihat hasil ini memang sepertinya lepas. Tentu ini banyak faktor yang harus dievaluasi,” ujar Umar Hasyim kepada koran ini kemarin (12/5).

Umar mengaku kaget dengan ketatnya kompetisi tersebut. Tidak hanya sekadar menarik simpati rakyat dengan cara-cara sehat, namun dia melihat ada aroma money politics. “Meski untuk kasus ini memang sulit dibuktikan. Tapi aromanya sangat terasa sekali,” ujar Umar Hasyim.

Ditanya apakah faktor pilihan capres juga berdampak pada suara PAN? Umar mengatakan secara pasti belum bisa menjawab karena hal ini butuh kajian dan penelitian. “Bisa saja ada pengaruhnya. Tapi kan harus diteliti dulu untuk validitasnya,” ujarnya.

Saat ini tim DPW PAN masih terus bekerja untuk mengawal proses suara hingga ada penetapan dari KPU pusat. Bila nanti ditemukan ada kecurangan dengan bukti-bukti kuat maka tidak menutup kemungkinan akan dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah Sriyanto Saputro juga mencium ada proses tidak fair dalam pemilu kali ini. Terutama di wilayah eks Karesidenan Surakarta.  

“Kami melihat pertarungan terberat di dapil IV. Kami menduga ada jalannya kurang fair dalam proses pemilu ini. Terutama di Wonogiri,” terang Sriyanto. 

Pihaknya menjelaskan di wilayah eks Karesidenan Surakarta, dugaan money politics sangat kuat. Namun lagi-lagi untuk pembuktian memang sangat sulit. “Money politics ini seperti kentut. Ada yang menyaksikan dan dapat dirasakan, tapi sulit dibuktikan,” bebernya.  

Termasuk ada dugaan pelibatkan jajaran birokrasi mulai dari ASN hingga jajaran kepala desa untuk mendukung calon dan partai tertentu. “Di eks Karesidenan Surakarta ini, kami digempur luar biasa. Kami baru mengkaji dan mencari bukti-bukti,” jelasnya. 

Dari berkomunikasi dengan Wakil Ketua DPP Gerindra Ferry Juliantono yang menjadi caleg DPR RI dari dapil IV, ada dugaan penambahan suara partai sangat signifikan di Wonogiri. “Ada salah satu partai yang dikalkulasi mendapat tiga kursi, namun ternyata menjadi empat kursi,” ujar Sriyanto. 

Sementara di dapil V,  Sriyanto mengakui suara yang diperoleh partainya memang tidak mampu mengangkat caleg ke Senayan. Karena itu untuk dapil ini partainya sudah angkat tangan. 

Ditanya kemungkinan gugatan ke MK soal hasil pemilu di dapil IV, pihaknya mengaku masih terus komunikasi dengan tim caleg DPR RI Ferry Juliantono. (din/bun)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia