Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Kaligrafi dari Tembaga Tumang Kebanjiran Order

13 Mei 2019, 13: 01: 09 WIB | editor : Perdana

TEKUN: Seorang perajin tembaga Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali sedang menyelesaikan ukiran kaligrafi, kemarin. Ramadan ini pesanan kaligrafi dari tembaga membeludak.

TEKUN: Seorang perajin tembaga Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali sedang menyelesaikan ukiran kaligrafi, kemarin. Ramadan ini pesanan kaligrafi dari tembaga membeludak. (TRI WIDODO/RASO)

Share this      

BOYOLALI – Bulan Ramadan membawa berkah bagi perajin tembaga di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Perajin tembaga mengaku permintaan kaligrafi membeludak. Sudah terjadi sejak awal bulan puasa kemarin.

Murtono, 45, perajin kaligrafi tembaga Desa Tumang mengaku sempat kewalahan melanai pesanan. Dalam mengerjakan kaligrafi, dia dibantu sejumlah karyawannya.

”Ya bersyukur pesanan kaligrafi tembaga pada bulan puasa ini meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bahkan peningkatan pesanan mencapai 60 persen,” ucap Murtono kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/5).

Peningkatkan pesanan ini terjadi sejak sepekan sebelum bulan puasa Ramadan. Pesanan datang dari sejumlah kota besar. Seperti Semarang, Solo, Jepara, Jakarta, dan Surabaya. Mayoritas memesan kaligrafi tembaga bertuliskan ayat kursi dan pintu Kakbah. Terkait harga kaligrafi, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya.

”Ukuran 130 x 36 cm saya hargai Rp 1.500.000 hingga Rp 2.500.000. Harga tergantung pesanannya. Juga berdasar ukuran dan kualitas bahan baku,” bebernya.

Agar pesanan selesai tepat waktu, para perajin terpaksa menambah jam kerja alias lembur. Sebab semua pesanan ditarget selesai dan sudah dikirim ke tujuan, sepekan sebelum Lebaran. ”Namun ada juga pemesan yang mengambil langsung ke sini,” ujarnya.

Perajin lainnya Mawardila menyebut tembaga dari Desa Tumang sudah terkenal akan kualitas dan tahan lama. Mempertahankan kualitas, perajin tidak menggunakan mesin dalam pengerjaan kaligrafi. Melainkan dengan cara diukir.

Awalnya para perajin memproduksi perkakas dapur berbahan tembaga maupun kuningan. Seiring dengan perkembangan zaman, para perajin mulai mengembangkan keterampilannya membuat berbagai macam hiasan rumah. ”Seperti aneka tiang dan lampu hias, serta berbagai kerajinan lainnya,” tandas Mawardila. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia