Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Cerita Taekwondoin Solo Menjalani Training Center di Korsel

13 Mei 2019, 17: 49: 29 WIB | editor : Perdana

SANTAI: Hakiman saat berada di Seoul, Korea Selatan

SANTAI: Hakiman saat berada di Seoul, Korea Selatan

Muslim di Indonesia wajib bersyukur. Selain keberadaan makanan halal yang melimpah, harganya pun relatif terjangkau. Kondisi ini berbanding terbalik dengan di Korea Selatan. Selain sulit mendapatkan makanan halal, muslim di sana harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membelinya.

NEGERI Gingseng Korea Selatan ternyata tidak terlalu “ramah” bagi umat muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan saat ini. Kesulitan itu juga dirasakan Hakiman, pelatih taekwondo asal Kota Bengawan yang sempat merasakan Bulan Ramadan di Seoul pada 2016 silam.

Saat itu, Hakiman bersama 16 atletnya mengikuti training center (TC) di Seoul dalam rangka persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Kebetulan, TC bertepatan dengan Bulan Ramadan. Dia cukup kerepotan mencari makanan halal. Kalau pun ada, harganya sangat mahal. Contohnya satu paket ayam dan nasi lengkap dengan sambal hingga lalapan dibanderol Rp 85 ribu.

”Mungkin karena khusus ya, disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Makanya harganya mahal,” beber Hakiman kepada Jawa Pos Radar Solo.

Untuk mencari rumah makan penyedia makanan halal tersebut, dia harus menempuh jarak setengah jam berjalan kaki dari hotel tempatnya menginap. Rumah makan tersebut berada di sebuah minimarket dan satu-satunya yang menyediakan makanan Asia di Seoul. 

Selain sulit menemukan makanan halal, Hakiman juga kesulitan menemukan masjid. Suara azan tidak pernah terdengar sedikit pun. Padahal hotel dan pusat latihannya berada di tengah kota. Alhasil, untuk mengatur waktu berbuka, sahur, dan jadwal salat lainnya, Hakiman mengandalkan aplikasi di smartphone.

”Di sana buka puasa pukul 20.00, salat Subuh pukul 03.20 pagi. Jadi waktu puasanya lebih lama. Untuk salat Jumat saja, saya kesulitan mencari masjid,” katanya.

Kondisi cuaca juga kurang bersahabat. Pukul 10.00 pagi, sinar matahari sudah terasa menyengat. Beruntung, latihan taekwondo tidak banyak di luar ruang. Sehingga terhindar dari paparan sinar matahari yang sangat panas.

Mendekati kejuaraan, mereka berpindah ke Gwangju. Beruntung, Gwangju lebih mudah menemukan toko halal dan minimarket yang menyediakan makanan Asia.

”Harganya juga lebih terjangkau. Variasi makanannya lebih beragam, tidak hanya nasi ayam, tapi juga makanan Asia lainnya,” sambungnya.

Hakiman selalu membeli beberapa mie instan dan sarden sebagai stok makanan. Jika tidak, ia selalu memastikan ke petugas resto hotel bahwa makanan yang disiapkan tidak mengandung pork. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia