Selasa, 15 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Merasakan Ramadan di Texas, Amerika Serikat yang Cukup Panas

14 Mei 2019, 11: 35: 59 WIB | editor : Perdana

LIBURAN: Retno Tanding Suryandari (paling kanan) menikmati musim dingin di AS.

LIBURAN: Retno Tanding Suryandari (paling kanan) menikmati musim dingin di AS. (DOK.PRIBADI)

Share this      

Suhu ekstrem 40 derajat celcius menemani hari-hari umat muslim Texas, Amerika Serikat yang menjalakan ibadah puasa Ramadan saat ini. Ditambah lagi, durasi puasa dua jam lebih lama dibanding di Indonesia.

RAMADAN di Amerika selalu jatuh saat musim panas. Umat muslim di sana harus lebih bersabar menjalani ibadah puasa. Sebab, suhu musim panas di Texas bisa mencapai 40 derajat celcius. Apalagi durasi waktu puasa sekitar 15 jam. Pengalaman inilah yang dirasakan Retno Tanding Suryandari selama tiga tahun berpuasa di Texas, Amerika pada 2010 silam. Kala itu, Tanding tengah menyelesaikan studi S3 di University of North Texas (UNT). 

”Puasanya 15 jam, hampir sama dengan Indonesia. Hanya ditambah beberapa jam saja. Jadi berbuka pukul 07.30 malam, sahurnya pukul 4.30 dini hari,” beber Tanding, sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Beruntung, jarak rumahnya ke kampus cukup dekat. Sehingga tidak banyak waktu terpapar sinar matahari yang terik. Tanding banyak menghabiskan waktu selama puasa di dalam ruangan.

“Alhamdulillah, saya selalu full satu bulan. Kalau warga muslim lainya tentu terasa berat. Karena cuacanya sangat panas,” imbuhnya.

Tanding juga bersyukur karena cukup mudah mendapatkan makanan halal. Lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya, hanya butuh setengah jam perjalanan. Selain itu, pengurus masjid setempat juga banyak menyediakan makanan seperti takjil.

”Kita tinggal datang, salat, kemudian makan bersama. Selepas Isya, makanan melimpah ruah,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.

Masjid yang dimaksud Tanding hanya berbentuk rumah. Jangan dibayangkan masjid megah seperti yang sering ditemui di Indonesia. Masjid di sana hanya berbentuk bangunan biasa tanpa identitas seperti tempat ibadah.

“Tapi sekarang sudah ada identitasnya. Sudah ada kubahnya. Jadi orang-orang tau kalau itu masjid, tempat untuk beribadah,” imbuhnya.

Sejauh ini, dia tidak mengalami kendala berarti selama berpuasa. Bahkan, warga lokal juga menjunjung toleransi dengan umat muslim yang menjalankan puasa.

“Selain cuaca yang terik, godaan lainnya karena tidak ada teman yang juga berpuasa. Mau makan sahur harus bangun sendiri, masak sendiri,” jelasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia