Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Hutang Puasa Wajib Diganti

14 Mei 2019, 20: 37: 33 WIB | editor : Perdana

TADARUS: Perbanyak amal saat Ramadan.

TADARUS: Perbanyak amal saat Ramadan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

HAMPIR seminggu puasa Ramadan. Eh, tiba-tiba teringat masih punya hutang puasa Ramadan tahun sebelumnya yang belum diganti. Waduh, bagaimana ya? Beberapa orang beranggapan, kalau puasa Ramadan tahun-tahun sebelumnya belum dibayar harus diganti dengan dua kali lipat jumlah hutang puasa. Apakah benar demikian?

“Tidak. Bayar puasanya sesuai jumlah hutang. Sekarang laksanakan puasa Ramadan dulu sampai selesai. Nanti selesai Ramadan, segera bayar hutang puasanya,” jelas salah seorang pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madina Sragen, Ustaz Dede Wahyudin kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dede menekankan seseorang harus mendahulukan membayar hutang puasa di Ramadan sebelumnya terlebih dahulu. Baru kemudian hutang puasa Ramadan tahun ini. Jika masih ada waktu, bisa dilanjutkan dengan puasa Syawal.

“Bayar puasa yang wajib dulu. Kalau puasa Syawal kan sunah. Yang wajib lebih utama. Dan dalam membayar hutang puasa ini jangan ditunda-tunda. Setelah itu banyak istighfar kepada Allah, karena masih suka menunda-nunda membayar hutang puasa,” bebernya.

Teknisnya, Ustaz Dede menyarankan, usai Bulan Ramadan berakhir langsung segera mengganti hutang puasa terdahulu. Baru kemudian dilanjutkan dengan hutang puasa lainnya.

“Soalnya kita tidak pernah tahu kapan umur habis. Jadi lebih baik segera saja,” sambungnya.

Ustaz Dede menjelaskan Allah mengizikan bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit, safar, atau sebab lainnya untuk tidak berpuasa. Namun wajib diganti saat di luar Bulan Ramadan. Dalam Quran Surat Al Baqarah ayat 184, Allah berfirman, barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari lainnya.

“Kalau kasusnya baru teringat, berarti itu kan kelupaan. Berarti seseorang menunda mengganti puasa karena ada udzur. Dalam kondisi ini dia hanya berkewajiban mengganti puasa tanpa membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya,” jelasnya.

Sementara jika seseorang sengaja menunda mengganti puasa tanpa ada udzur tertentu maka kewajiban untuk mengganti puasa tidak hilang. Tetap harus diganti. Juga wajib bertaubat karena menunda kewajiban. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia