Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Melihat dari Dekat Masjid Siti Aisyah Bergaya Arsitektur Modern

14 Mei 2019, 20: 40: 09 WIB | editor : Perdana

MEWAH: Masjid Siti Aisyah di Jalan Menteri Supeno, Manahan semakin ramain dikunjungi jamaah saat Ramadan.

MEWAH: Masjid Siti Aisyah di Jalan Menteri Supeno, Manahan semakin ramain dikunjungi jamaah saat Ramadan. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

IDENTITAS sebuah masjid kini tidak selalu direpresentasikan melalui kubah dan simbol bulan bintang di ujungnya. Masjid Siti Aisyah, contohnya. Masjid yang berdiri megah di kawasan Jalan Menteri Supeno, Manahan ini tak berkubah. Bangunannya pun jauh dari kesan layaknya sebuah masjid pada umumnya. Bentuknya kotak. Alhasil julukan Masjid Kotak pun tersemat untuk masjid ini.

"Sebenarnya kubah masjid itu kan produk budaya. Kemudian dijadikan standar kalau masjid itu pasti ada kubahnya. Padahal tidak selalu demikian," beber Sekretaris Masjid dan Yayasan Siti Aisyah, Farhan Darmatatya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Arsitektur bentuk kotak ini terinspirasi dari masjid-masjid di Timur Tengah, seperti di Maroko. Masjid di sana tidak berkubah. Dengan akulturasi budaya ini, Masjid Kotak menjadi ikon masjid modern minimalis di Kota Bengawan.

"Kayaknya di Solo belum ada ya masjid yang tidak ada kubahnya. Biasanya masjid selalu ada kubah atau menara bentuk limasan," sambung Gus Farhan, sapaan akrabnya.

Saat memasuki bangunan masjid, mata akan dimanjakan dengan desain interior yang mewah. Banyak tulisan kaligrafi yang mengelilingi dinding maupun atap masjid. Sesuai dengan arsitekturnya, kaligrafi juga ditulis dengan jenis kufi berbentuk kotak.

Pintu masjid terbuat dari kayu. Dengan hiasan full ukiran Batik Truntum. Meski konsepnya modern minimalis, namun tetap disertai sentuhan corak nusantara.

"Karena masjid ini terletak di Solo, jadi kami akulturasikan budaya Timur Tengah dengan budaya Jawa. Salah satunya dengan motif Batik Truntum ini," jelas Gus Farhan.

Interior dalam masjid, menurut Gus Farhan, sama seperti interior Masjid Nabawi. Seluruh bangunan dilapisi batu marmer. Begitu pula luar bangunan yang hanya beda warna saja. Marmer ini kemudian dipadukan dengan kayu-kayu berwarna coklat. Dan tak lupa dipercantik dengan kaca-kaca yang besar dan tinggi.

"Perpaduan ini menunjukkan kesan lux dan mewah. Menjadi daya tarik bagi jamaah untuk datang memakmurkan masjid," imbuhnya.

Yang lebih unik lagi, mimbar tempat khotib ceramah nampak melayang tanpa menempel lantai. Ada filosofi di balik posisi tersebut.

"Agar yang berdakwah di atas mimbar diringankan dalam menyampaikan kebaikan. Karena kalau melayangkan berarti ringan. Nah, harapannya saat menyampaikan dakwah juga dimudahkan," beber Gus Farhan.

Masjid Kotak terdiri dari basement untuk kantor, ground untuk tempat salat jamaah laki-laki, lantai 1 untuk TPA dan ruang meeting, dan lantai 2 untuk tempat salat jamaah perempuan. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 925 meter persegi dan mampu menampung 600 jamaah. Di lantai 2 juga disediakan televisi khusus dengan kamera yang mengarah ke mihrob. Sehingga bisa melihat khutbah imam di mimbar.

"Jadi tetap bisa khusyuk dan nyaman beribadah. Kami juga sediakan full AC di semua ruangan. Masjid Kotak ingin menunjukkan representasi umat bahwa Islam itu modern, sejahtera, dan kuat," tegas Gus Farhan. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia