Selasa, 22 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Pasangan Suami Istri Berkali-kali Tertipu Uang Palsu

15 Mei 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

APES: Suroso memperlihatkan uang palsu yang didapat dari pembeli kiosnya.

APES: Suroso memperlihatkan uang palsu yang didapat dari pembeli kiosnya. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Aksi penyebaran modus uang palsu bisa menyasar siapa saja. Tidak peduli korbannya sudah tua renta. Ini yang menimpa pasangan suami istri Suroso Hadi Sumarno, 92, dan Parjinem, 83. Seperti apa ceritanya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

DENGAN jalan tertatih Suroso baru saja tiba di kaosnya usai dimintai keterangan di Polsek Jebres. Ya, dia baru saja tertipu oleh seorang pembeli di kiosnya dengan membayar pakai uang palsu. 

Tidak ada raut suntuk di wajah Suroso meski baru saja kena tipu. Bahkan kakek tua ini sempat memberikan minuman gratis pada sang pengemudi ojek online yang mengantarkan pulang usai diperiksa dari polisi. “Uangnya tadi diganti sama Kapolsek Jebres,” ujar Suroso dengan tersenyum semringah. 

Dia pun mulai berkisah soal bagaimana bisa kena tipu pagi itu. Sekitar pukul 06.30, usai dia rampung menata kios rokoknya, ada sebuah mobil minibus bernopol luar kota mampir ke kiosnya. Mobil berisi dua orang itu pun tidak parkir, tapi hanya menepikan mobilnya di pinggir jalan dengan mesin kendaraan masih menyala. Secara samar Suroso hanya melihat dua orang di dalam mobil tersebut. 

“Usianya kisaran 25 tahun. Satu pria dan satu perempuan. Tapi yang turun yang pria,” kata dia.

Pria muda itu lantas meminta sejumlah rokok sambil mengeluarkan tiga lembar uang seratusan ribu untuk dibelanjakan dengan belasan rokok berbagai merek. Rinciannya, 4 bungkus Sampoerna Mild, 4 bungkus Dunhill Hitam, dan 4 bungkus Jarum Super, dan 2 bungkus Mallboro. Sebanyak 14 bungkus rokok senilai Rp 240 ribu itu dibayar dengan tiga lembar seratusan ribu. 

Belum kelar kembalian diberikan, pria misterius itu lantas meminta tukar uang selembar seratusan ribu dengan pecahan lima puluhan. “Saya kasih kembalian terus minta tukar lagi dengan Rp 50 ribuan. Jadi totalnya ada Rp 400 ribu dari pria itu. Semua pecahan seratus ribuan,” ujar Suroso. 

Suroso sebenarnya punya firasat tak baik soal kejadian itu. Pasalnya bukan sekali ini saja dia kena tipu uang palsu. Kecurigaan dia itu muncul karena orang yang datang dan membeli banyak barang ini itu dengan uang pecahan besar. “Sebenarnya saya itu sudah curiga, biasanya juga saya tegur. Eh, kok tadi kelupaan," beber dia. 

Usai pria misterius beranjak, Suroso lalu iseng menunjukkan empat lembar uang seratusan itu pada pedagang di kanan kirinya. Setelah dicek, barulah dia sadar kalau uang itu palsu. “Dilihat banyak teman-teman pedagang. Katanya palsu semua, ya sudah,” ujar dia.

Apakah ada perasaan kesal usai ditipu dengan uang palsu? Surojo menjawab tidak. Bagi dia, rezeki itu milik masing-masing. Ia pun tak menaruh dendam pada si pelaku penipuan. Dia malah terkekek karena teringat beberapa kali kena tipu uang palsu. “Kalau diingat-ingat dua tahun ini sudah yang ketiga saya tertipu uang palsu,” ujar dia. 

Kasus serupa juga pernah terjadi di kios milik istrinya, Parjinem. Bahkan perhiasan berupa cincin, gelang, dan giwang emas raib karena digendam ahli sihir. “Kalau kejadian itu saya diajak masuk mobil. Lalu seingat saya tangan saya dipegang-pegang. Lalu saya diturunkan di daerah Palur dan baru sadar kalau perhiasan saya hilang. Saya lalu ditolong polisi dan diantar pulang,” ujar Parjinem.

Dari semua kejadian buruk yang menimpa mereka, Suroso dan istrinya ini tetap tak menaruh dendam pada semua pelaku. Meski penghasilan mepet dan serba susah, keduanya tetap bersyukur karena masih banyak orang baik yang peduli. “Rezeki itu yang mengatur yang di atas. Pasti ada gantinya,” tutur Parjinem. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia