Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

30 Persen PKH Tak Tepat Sasaran, Si Kaya Masih Nikmati Bantuan

15 Mei 2019, 15: 19: 26 WIB | editor : Perdana

30 Persen PKH Tak Tepat Sasaran, Si Kaya Masih Nikmati Bantuan

SOLO – Program keluarga harapan (PKH) sejatinya ditujukan meringankan beban warga yang kurang mampu. Sayangnya, praktik di lapangan, si kaya pun kecipratan bantuan. 

Sebab itu, pemkot akan mengevaluasi dan mendata ulang daftar penerima PKH. Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo mengakui 30 persen penerima PKH tidak tepat sasaran.

Banyak warga yang secara ekonomi memiliki kemampuan di atas rata-rata menerima manfaat PKH. Sebaliknya, warga yang benar-benar miskin tidak tersentuh sama sekali. Bahkan dia menerima laporan ada warga yang memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor, tapi mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah pusat maupun pemkot.

"Sekitar 30 persen tidak tepat sasaran. Karena berangkatnya sudah salah. Data keluarga miskin berasal dari BPS (Badan Pusat Statistik), sedangkan di sana memiliki standar kemiskinan sendiri. Sedangkan data yang ada beberapa tidak sesuai keadaan di lapangan," urainya, Selasa (14/5). 

Untuk memperoleh data yang valid, wali kota akan membentuk tim khusus. Tugasnya melakukan survei lapangan, melihat langsung kondisi rumah dan lingkungan, serta melakukan penggalian informasi secara mendalam terkait kondisi ekonomi dan sosial warga. Data tersebut akan disandingkan dengan data kemiskinan dari BPS.

"Kita verifikasi semuanya. Siapa yang menerima bantuan, difoto rumahnya, apa pekerjaannya. Jadi kita verifikasi langsung, tidak ada manipulasi," imbuhnya.

Selain itu, Rudy juga bakal menempuh langkah birokratis. Rencananya dia akan berkomunikasi dengan menteri sosial (mensos) terkait ketidaksesuaian data penerima PKH dengan kondisi lapangan.

"Sebenarnya mensos tinggal perintahkan saja kepala daerah untuk menyerahkan data warga yang berhak memperoleh bansos

 Karena kita kan lebih tau kondisi lapangan," paparnya.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Surakarta Ahyani mengakui Kota Solo belum memiliki big data sebagai rujukan tunggal. Namun pemkot tengah berusaha menyiapkan perangkat untuk mengintegrasikan data kependudukan. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia