Sabtu, 19 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

Keramahan Kota Edinburgh, Skotlandia Terhadap Umat Muslim Pendatang

15 Mei 2019, 21: 57: 04 WIB | editor : Perdana

LIBURAN: Fariyanti Methadias (kiri) bersama keluarga di Castle of Edinburgh.

LIBURAN: Fariyanti Methadias (kiri) bersama keluarga di Castle of Edinburgh.

Share this      

Suasana Ramadan di Edinburgh, Skotlandia tak kalah semarak dengan di Tanah Air. Berbagai kegiatan digelar, bahkan ada pula berbagi takjil ala Indonesia.

KOTA Edinburgh, Skotlandia Edinburgh dipadati imigran muslim dari berbagai negara. Tidak hanya dari Indonesia, tapi juga Pakistan, India, Iran, Turki, dan Melayu. Tak ayal, Ramadan di kota ini begitu semarak dengan berbagai kegiatan Ramadan yang dipusatkan di Central Mosque Edinburgh.

”Ada salat tarawih berjamaah, bagi-bagi takjil ke jalanan di sini, dan buka puasa bersama. Setelah salat Magrib, dilanjutkan makan bersama. Biasanya ada nasi biryani dan chicken curry dengan porsi dua orang,” beber Fariyanti Methadias kepada Jawa Pos Radar Solo.

Setiap hari, ada jadwal kegiatan Quran Circle. Baik untuk jamaah perempuan dan laki-laki. Khusus untuk jamaah laki-laki, kegiatan diadakan setiap siang dan sore di hall masjid. Sementara untuk jamaah perempuan, kegiatan dilakukan setiap hari kecuali Senin dan Kamis. Biasanya di exhibition hall, perpustakaan masjid, atau tempat salat perempuan.

”Tiap Sabtu pagi, ada semacam pengajian perempuan. Dari jam 11 sampai 1 siang,” sambung Metha, sapaan akrabnya.

Selain itu, setiap hari selepas salat Duhur ada kegiatan Duhur Reminder. Yakni kajian yang berisi soal pengingat umat muslim. Lalu dilanjutkan setelah salat Ashar dengan kegiatan Tafsir Lesson yang mengkaji tafsir Alquran. Masing-masing kegiatan tersebut dipandu oleh ustad masjid setempat.

”Kegiatan itu free untuk semua muslim yang ingin datang. Tidak perlu booking tempat, langsung datang saja ke masjid,” kata Metha.

Ini kali pertama Metha menjalani puasa Ramadan di Edinburgh. Dia saat ini mengikuti sang suami yang menempuh pendidikan di University of Edinburgh. Ada perbedaan yang cukup signifikan selama berpuasa. Terutama soal durasi waktunya selama 17,5 jam.

Dimulai saat Subuh pukul 03.30 dan berbuka puasa pukul 21.00. Di waktu-waktu mendekati lebaran nanti, durasi puasa akan bertambah menjadi 19 jam. Subuh dimuali pukul 2.30 dan buka puasa pada pukul 22.00.

”Kaget juga puasa pertama di sini. Sebenarnya tidak sulit, tapi cukup berat menjalani puasa bukan di Indonesia. Tantangannya di waktu yang sangat mepet antara sahur dan berbuka. Jadi bikin bingung antara mau tidur atau engga. Kalau tidur takut kebablasan, kalau engga tidur ngantuk juga,” ungkapnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia