Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Kabag Perekonomian Setda Klaten Sebut Operasi Pasar Kurang Efektif

16 Mei 2019, 17: 41: 06 WIB | editor : Perdana

BELUM STABIL: Aktivitas pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Induk Klaten, kemarin (15/5).

BELUM STABIL: Aktivitas pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Induk Klaten, kemarin (15/5). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Kenaikan harga komoditas bawang putih, pekan lalu sempat mencuri perhatian Pemkab Klaten. Sempat ada usulan menggelar operasi pasar. Namun, solusi tersebut mentah. Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Klaten Cahyo Dwi Setyanta lebih memilih mendirikan toko pangan.

Cahyo menilai operasi pasar kurang efektif untuk mengendalikan harga. Karena itu diputuskan menjual bahan pokok sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Toko pangan didirikan di lantai 3 Pasar Induk Klaten.

Toko pangan telah berlangsung sejak dua pekan sebelum bulan puasa. Bahan pokok yang dijual berupa beras, minyak goreng, terigu, hingga telur. Diharapkan para pedagang dan masyarakat yang hendak memenuhi kebutuhannya jelang Lebaran, bisa memanfaatkan toko sembako tersebut.

Toko pangan ini hasil kerja sama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Klaten dengan Bulog. Diharapkan mampu mengendalikan harga yang dikhawatirkan terus mengalami kenaikan jelang Lebaran.

”Bawang putih di Klaten tidak bisa memproduksi, masih mengandalkan daerah lain. Mengambil dari Boyolali dan Karanganyar. Pemerintah pusat sudah mengambil kebijakan impor, sehingga bisa memberikan dampak pada harga bawang itu sendiri,” kata Cahyo kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (15/5).

Strategi yang dilakukan pemkab, tidak sekadar mendirikan toko pangan. Namun juga pemantauan harga di sejumlah pasar tradisional. Untuk mengetahui fluktuasi harga komoditas pokok tiap pekannya. Nantinya sebagai dasar dalam mengambil kebijakan untuk mendukung pengendalian harga sembako.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan, Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disdagkop UMKM) Klaten Mursidi menambahkan, pantauan harga juga dilakukan Bupati Klaten Sri Mulyani. Dilakukan sepekan jelang Lebaran.

”Operasi pasar sebenarnya sudah ditentukan pemprov, jadi tidak semua daerah. Apalagi juga harus memenuhi sejumlah kriteria untuk dilakukan operasi pasar itu. Salah satunya, daerah tersebut memang miskin,” tandas Mursidi.

Pantauan juga dilakukan untuk mengantisipasi harga sembako yang tidak wajar. Temuan itu lantas untuk diteruskan kepada satgas pangan. Guna dilakukan penelusuran untuk mencari penyebabnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia