Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Mengenal Karbon Monoksida, sang “Silent Killer”

16 Mei 2019, 18: 54: 17 WIB | editor : Perdana

Rois Fatoni, PhD, Dosen Prodi Teknik Kimia Unversitas Muhammadiyah Surakarta

Rois Fatoni, PhD, Dosen Prodi Teknik Kimia Unversitas Muhammadiyah Surakarta

Share this      

Oleh: Rois Fatoni, PhD, Dosen Prodi Teknik Kimia Unversitas Muhammadiyah Surakarta

BARU-baru ini beredar di WhatsApp grup dan media sosial lainnya beberapa foto yang menunjukkan satu keluarga di dalam mobil dengan caption menyebutkan mereka pingsan atau meninggal karena tidur di dalam mobil dengan kondisi mesin dan AC menyala.

Ternyata, mereka adalah satu keluarga yang sedang istirahat dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Sumatera Barat. Sang anak meninggal dunia, sedangkan kedua orang tuanya tidak sadarkan diri. Diduga, mereka keracunan gas karbon monoksida hasil pembakaran bahan bakar mesin mobil.

Karbon monoksida dengan rumus kimia CO ini memang dikenal sebagai “silent killer” karena sifatnya yang beracun dan bisa membunuh korbannya secara diam diam. Tulisan singkat ini akan membahas bagaimana gas CO itu terbentuk, bagaimana gas tersebut meracuni tubuh dan membunuh korban, dan bagaimana upaya pencegahan dan penanggulangannya. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Gas karbon dioksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang mengandung unsur karbon (C). Bahan bakar tersebut bisa berupa bahan bakar minyak atau berupa bahan bakar padat seperti arang atau kayu bakar yang dibakar.

Proses pembakaran yang sempurna seharusnya mengubah unsur karbon menjadi karbon dioksida (CO2). Ketidaksempurnaan proses pembakaran mengakibatkan tidak semua unsur karbon berhasil diubah menjadi CO2, tetapi menjadi karbon monoksida. Dua-duanya adalah gas yang beracun bagi tubuh manusia. Namun karakteristik dan dosis keberacunan keduanya sangatlah berbeda.

Manusia bisa bernapas dengan lancar dan lega apabila udara yang dihirup mengandung 21 persen oksigen. Kurang dari itu, suplai oksigen ke dalam paru paru akan terganggu. Tubuh manusia dikarunia Tuhan kemampuan sensor oksigen yang sangat sensitif. Turun 2 persen saja, menjadi 19 persen, manusia sudah merasakan sesak napas.

Secara alami, hal ini akan mendorong tubuh untuk mencari udara segar dengan konsentrasi oksigen 21 persen. Itulah yang terjadi ketika gas CO2 mencemari udara yang dihirup manusia. Keberadaan gas CO2 di udara akan mengurangi kadar oksigen. Semakin besar kadar CO2, semakin kecil kadar O2.

Sebelum terlalu banyak kekurangan oksigen, tubuh sudah bereaksi mencari tambahan udara segar karena merasakan sesak napas. Maka hampir tidak pernah kita dapati ada orang meninggal karena keracunan gas CO2. Sebab, mekanisme pernapasan dengan sensor tubuh yang sensitif tersebut membuat orang secara refleks akan segera mencari udara dengan kadar oksigen yang cukup.

Tidak demikian halnya dengan mekanisme peracunan gas CO. Apabila ada molekul gas CO di udara yang terhirup dan masuk ke dalam paru paru, hemoglobin akan sangat cepat mengikatnya dan menghasilkan carboxyhemoglobin. 

Hemoglobin jauh lebih suka mengikat gas CO daripada gas O2. Daya ikat atau affinitas CO terhadap hemoglobin adalah 223 kali lebih kuat daripada affinitas oksigen. Bukan oxyhemoglobin yang didistribusikan oleh aliran darah, melainkan carboxyhemoglobin.

Akibatnya, suplai oksigen ke dalam sel di organ tubuh menjadi terhalang. Sel-sel kekurangan oksigen, dan bila berlangsung cukup lama bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada organ tubuh yang berujung pada kematian.

Celakanya, keseluruhan proses tersebut berlangsung tanpa melalui proses sesak napas. Mengapa? Sebab kadar oksigen yang terhirup ke dalam paru paru pada proses pernapasan masih cukup tinggi; tidak sebagaimana yang terjadi pada proses pencemaran CO2. Tidak ada perasaan sesak napas ini membuat tubuh gagal mendeteksi proses keracunan CO.

Tiba tiba saja langsung pingsan, dan jika keadaan proses peracunan itu berlangsung cukup lama bisa mengakibatkan kematian dengan mekanisme yang dijelaskan di atas.

Seberapa parah efek keracunan CO terhadap tubuh manusia tergantung pada kadar CO dan lama pemaparan terhadap korban. Pemaparan udara mengandung CO sebesar 3.200 ppm selama 10 menit bisa mengakibatkan hilangnya kesadaran.

3.200 ppm itu ekuivalen dengan 0,32 persen. Jika pemaparan dengan kadar itu berlanjut hingga 30 menit akan menyebabkan kematian. Padahal, mesin mobil yang menyala bisa menghasilkan gas buang dengan konsentrasi gas CO hingga 30.000 ppm, atau hampir sepuluh kali lipat dosis yang menyebabkan kematian.

Mesin mobil yang dilengkapi dengan catalytic converter bisa menurunkan kadar CO hingga 1.000 ppm, sehinga bisa menekan angka korban keracunan CO. Akan tetapi angka itu akan meningkat karena akumulasi apabila mobil dinyalakan di dalam garasi di dalam rumah.

Meskipun pintu garasi terbuka pun, tanpa ventilasi yang besar angka itu akan meningkat apabila mesin mobil semakin lama dinyalakan. 

Dengan penjelasan di atas, maka berikut ini adalah hal hal yang perlu dihindari agar tidak terjadi keracunan gas CO.

Pertama, jangan menyalakan mobil di dalam garasi yang tertutup rapat, atau di tempat tertutup lainnya. Kedua, jangan tidur di dalam mobil yang tertutup rapat dalam keadaan mesin menyala dan mobil berhenti di tempat yang tidak ada banyak anginnya.

Jika terpaksa, maka tidurlah di dalam mobil dalam keadaan mesin mobil dimatikan. Banyak kasus keracunan gas CO hingga mengakibatkan kematian karena korban tidur di dalam mobil yang berhenti namun mesinnya dinyalakan. Ini dimaksudkan agar AC di dalam mobil bisa bekerja, membuat tidur menjadi nyaman. Namun ternyata gas CO yang dihasilkan menjadi terakumulasi dan lama-lama menyelinap ke dalam mobil dan membunuh orang yang sedang tidur secara diam diam tanpa perlawanan sama sekali.

Ketiga, jangan sekali kali menyalakan arang atau kayu bakar di dalam kamar yang tertutup. Keempat, jangan menyalakan pemanas dengan bahan bakar mengandung karbon di dalam rumah yang tertutup sedangkan ada anggota keluarga yang sedang tidur.

Mereka yang tidur ini bisa mengalami keracunan gas CO yang berakibat pingsan dan tidak ada orang yang mengetahuinya. *) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia