Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Keramahan Kota Edinburgh,Skotlandia Terhadap Umat Muslim Pendatang (2)

16 Mei 2019, 19: 51: 40 WIB | editor : Perdana

SANTAI: Fariyanti Methadias (kanan) bersama keluarga di Dean Village, Edinburgh

SANTAI: Fariyanti Methadias (kanan) bersama keluarga di Dean Village, Edinburgh

Share this      

Umat muslim Skotlandia, khususnya di Kota Edinburgh patut bersyukur dengan kerukunan antar umat beragama yang terus terpelihara dengan baik. Seperti halnya saat Ramadan ini, umat muslim dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk.

SUASANA Ramadan di Kota Edinburgh tak kalah semarak dibandingkan di Indonesia. Umat muslim yang termasuk golongan minoritas di kota itu, bisa menggelar berbagai kegiatan Ramadan. Mulai dari salat Tarawih, pengajian rutin harian, hingga buka bersama dan berbagi takjil di jalanan. Banyak masjid yang menggelar kegiatan tersebut dengan dipandu ustad setempat.

Hal itu wajar karena ada banyak umat muslim imigran dari berbagai negara. Mulai dari Indonesia, Pakistan, India, Iran, Turki, hingga Malaysia. Karena sudah menetap cukup lama, mereka juga menggantungkan hidupnya di kota itu. Tak sedikit yang membuka usaha makanan halal.

”Tidak sulit untuk menemukan makanan halal. Semua itu tersedia di toko maupun restoran halal,” jelas Fariyanti Methadias kepada Jawa Pos Radar Solo.

Metha, sapaan akrabnya, menyebut toleransi warga Edinburgh terhadap umat muslim sangat baik. Terbukti saat ada serangan teroris di masjid Selandia Baru beberapa waktu lalu, warga lokal turut menunjukkan solidaritasnya terhadap muslim Edinburgh.

”Mereka meletakkan banyak karangan bunga di depan Masjid Edinburgh dan memberi ucapan belasungkawa kepada kami,” jelas Metha.

Metha menjalani puasa Ramadan pertama di Edinburgh. Dia sedang mengikuti sang suami menempuh studi di University of Edinburgh. Tentu ada perbedaan waktu puasa dibandingkan Indonesia. Puasa dimulai pukul 03.30 dan berbuka puasa pukul 21.00. Di waktu-waktu mendekati lebaran nanti, durasi puasa akan bertambah menjadi 19 jam. Subuh dimulai pukul 02.30 dan buka puasa pada pukul 22.00.

”Karena sudah mendekati summer, jadi matahari nyaris tidak pernah terbenam. Jadi terang terus sepanjang hari. Sunrise di sini pukul 05.00. Nah, untuk menentukan sudah buka atau waktu sahur, di sini pakai pedoman membagi malam menjadi tujuh,” jelasnya.

Jadi sepertujuh malam pertama itu dianggap telah masuk waktu Isya, kemudian sepertujuh malam terakhir dianggap telah masuk waktu Subuh, sebelum matahari terbit. Itu asumsi yang digunakan muslim Edinburgh. Sebab, di sana sebenarnya masjid-masjid kecil selain Central Mosque punya jadwal salat yang berbeda. Metha dan keluarga memilih memanfaatkan aplikasi Edinburgh Central Mosque. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia