Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Menelusuri Jejak Sejarah Pondok Pesantren Tertua di Kota Solo (1)

16 Mei 2019, 20: 12: 34 WIB | editor : Perdana

MASIH TERJAGA: Bangunan pondok pesantren Jamsaren di Serengan, Surakarta.

MASIH TERJAGA: Bangunan pondok pesantren Jamsaren di Serengan, Surakarta. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

ALIRAN animisme dan adat istiadat Hindu masih menyelimuti Kota Bengawan pada 1.750 silam. Penyebaran Islam banyak menghadapi kepercayaan adat istiadat Jawa Hindu pada masa itu. Selain itu tantangan lainnya adalah merajelalanya kemaksiatan, dan kejahatan.

Sunan Pakubuwono IV lantas mendatangkan para ulama ke Surakarta. Salah satunya, Kyai Jamsari asal Banyumas yang kemudian mendirikan masjid di lokasi ponpes saat ini. Masjid tersebut jadi cikal bakal Pondok Pesantren Jamsaren. Dia lalu mengajarkan ajaran Islam ke masyarakat umum, bangsawan, dan pejabat istana Surakarta.

“Ajaran Islam dapat diterima dengan baik dan berkembang di Solo dan sekitarnya. Kampung kediaman Kyai Jamsari dikenal dengan Jamsaren sampai sekarang. Setelah Kyai Jamsari wafat digantikan putranya, Kyai Jamsari II,” beber Ketua Pengurus Harian Ponpes Jamsaren, Muqorobin kepada Jawa Pos Radar Solo.

Namun pada 1830, terjadi operasi tentara Belanda di Kota Bengawan. Para kyai bersembunyi dan keluar dari Kota Solo menuju ke daerah lain. Termasuk Kyai Jamsaren II dan santrinya menghilang, tidak ditemukan di tempat persembunyiannya. Selama 50 tahun, Pondok Jamsaren hancur dan kosong.

“Pondok Jamsaren bangkit kembali pada 1878, di tangan Kyai H. Idris asal Klaten. Beliau menemukan kampung Jamsaren dalam keadaan kosong dan berusaha membangun kembali Pondok Jamsaren serta mengembangkan ajaran Islam di daerah Solo,” sambung Muqorobin.

Kyai H. Idris mulai mendirikan musala dilingkari rumah pondok dari bambu. Di sana diselenggarakan pengajian dengan mengajarkan kitab-kitab Al-Islam berbahasa Arab dan diterjemahkan dalam Bahasa Jawa Pegon, disesuaikan dengan susunan Bahasa Arab. Cara pengajian yang disajikan dengan cara sorogan, yakni maju satu persatu. Sebagian lainnya dengan cara wekton atau blandongan, yakni berkelompok dengan masing-masing membawa kitab sendiri.

“Awalnya santri berjumlah ratusan bahkan ribuan. Mereka datang dari daerah sekitar Solo dan Jawa Tengah. Datang juga dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Sebagian mereka juga dari Sumatera, Malaya, Kalimantan, dan Sumbawa,” ungkap Muqorobin.

Pada 1908, musala ponpes diganti dengan bangunan masjid tembok sampai saat ini. Berlanjut pada 1913, sistem pengajian sorogan diganti dengan sitem kelas yang dibimbing oleh seorang qori atau mualim. Bersamaan itu pula Sunan Pakubuwono X mendirikan madrasah besar di sebelah Masjid Besar Surakarta, bernama Mambaul Ulum.

“Kyai H. Idris menjadi salah satu gurunya. Maka santri ponpes Jamsaren tiap pagi berangkat ke madrasah Mambaul Ulum, sepulang sekolah melanjutkan pembelajaran di ponpes,” kata Muqorobin.

Pada tahun pertama, santri diwajibkan untuk menghafal juz amma sebagai salah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Tahun berikutnya, santri diwajibkan menghafal Alquran juz 29, 28, dan seterusnya.

Muqorobin menyebut sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam menyikapi dunia pendidikan pada dekade ini, pihaknya menawarkan alternatif sistem pendidikan.

“Santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama Islam di pesantren. Di sisi lain, santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal. Harapannya, agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa ulama, mubaligh, mujahid, dan pemimpin yang berguna bagi bangsa,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia