Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Jalan Panjang Supriyadi Menuju Kursi Kepala Desa setelah 31 Tahun

17 Mei 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TAK MENYERAH: Kades Somopuro terpilih Supriyadi seusai pelantikan di pendapa Pemkab Klaten. 

TAK MENYERAH: Kades Somopuro terpilih Supriyadi seusai pelantikan di pendapa Pemkab Klaten.  (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Niat Supriyadi mengabdikan diri sebagai perangkat desa di tanah kelahirannya sudah bulat. Buktinya, meski sejak 1988 berulang kali gagal mengikuti tes seleksi perangkat desa, dia tetap tak menyerah. Hingga akhirnya 16 Mei kemarin, dia resmi dilantik menjadi kepala Desa Somopuro, Kecamatan Jogonalan.  Seperti apa kisahnya?

ANGGA PURENDA, Klaten

HARI masih pagi. Namun, 268 kepala desa (kades) terpilih hasil pemilihan kepala desa (pilkades) serentak sudah tiba di Pendapa Pemkab Klaten. Mereka kompak mengenakan pakaian dinas berwarna putih dengan selempang berwarna merah. Dari samping tempat duduk mereka masing-masing terdapat payung hias berwarna merah asal Kecamatan Juwiring. 

Wajah tegang tampak dari masing-masing kades terpilih jelang mengikuti upacara pelantikan. Termasuk Supriyadi, 62, yang baru kali pertama dilantik menjadi kepala desa terpilih dari Somopuro, Kecamatan Jogonalan pun terlihat gugup. Sekalipun didampingi sang istri Sulartri, 58, anak dan para pendukungnya

Kemarin memang hari bersejarah bagi Supriyadi. Sebab, usahanya untuk menjadi aparatur desa di tanah kelahirannya bukan hanya kali ini saja. Bahkan setiap kali ada lowongan aparatur desa di desanya selalu daftar, tetapi belum beruntung. Bahkan untuk menjadi kepala desa, Supriyadi sudah pernah mencoba hingga lima kali tetapi gagal.

Memang keinginannya untuk mengabdikan diri sebagai aparatur desa memang begitu kuat. Mulai dari mencalonkan diri sebagai Sekdes di Desa Somopuro pada 1988 tetapi gagal terpilih. Bahkan sempat mencoba peruntungannya sebagai kadus sebanyak dua kali tetapi kembali gagal terpilih.

Tidak hanya mencoba mengabdikan diri di desanya saja, tetapi dia juga pernah mencoba peruntungan di lain desa. Khususnya saat mencalonkan diri sebagai kaur pembangunan di Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan. Tetapi sayang nasib Supriyadi belum beruntung untuk menjadi seorang aparatur desa.

“Keinginan untuk menjadi aparatur desa di desa sendiri karena saya tidak ingin berpisah dengan ibu saya. Merasa dilahirkan di desa itu maka mendarmabaktikan untuk desa sendiri. Saya awali dari mencoba melamar menjadi sekdes pada 1988,” jelas Supriyadi saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, seusai pelantikan di Pendapa Pemkab Klaten, Kamis (16/5).

Terpilihnya Supriyadi menjadi kepala desa terpilih karena ada dorongan yang begitu kuat dari warganya. Sebenarnya dirinya tidak ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa kembali karena usianya yang sudah tua. Tetapi permintaan warga kepadanya untuk mendaftar sebagai kepala desa terus menguat hingga akhirnya dia bulat maju bertarung dalam pilkades serentak.

Memang dalam pilkades pada tahun ini sang petahana tidak mengikuti pilkades serentak di Somopuro, sehingga empat calon termasuk dirinya berebut menjadi kepala desa. Hingga akhirnya Supriyadi mampu meraih suara terbanyak dibandingkan lawan-lawannya dengan 973 suara. Capaian itu sudah melebihi target dari sebelumnya 950 suara. Sedangkan selisih dengan calon kades lainnya Priyono mencapai 142 suara. 

“Tentunya dengan terpilih menjadi kepala desa kita siapkan program-program unggulan. Lebih terbuka dan transparan serta dirembuk bersama warga tentunya,” jelas Supriyadi yang sudah menjadi abdi dalem Keraton Kasultanan Jogjakarta sejak 1989 ini.

Setelah dipercaya warga menjadi kepala desa, dia berjanji akan membawa warganya menuju sejahtera. Dia berjanji akan menyumbangkan segala tenaga dan pikirannya untuk kemajuan desanya. Mengingat untuk mencapai posisi ini merupakan penantian sangat panjang. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia