Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Ngabuburit Unik ala Santri Ponpes

17 Mei 2019, 16: 25: 13 WIB | editor : Perdana

LUWES: Tarian whirling darvish yang dibawakan Santri Ponpes Nurul Hidayah AL Mubarokah.

LUWES: Tarian whirling darvish yang dibawakan Santri Ponpes Nurul Hidayah AL Mubarokah. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hidayah Al Mubarokah, Kecamatan Andong, Boyolali punya cara sendiri untuk menunggu waktu berbuka puasa. Selain mengaji, puluhan satriwan dan santriwati ini juga berlatih whirling darvish atau tari sufi.

Menari dengan berputar-putar dengan diikuti dzikir sudah menjadi aktivitas rutin para santri di sana sambil ngabuburit. Mengenakan kostum penari ala Turki, mereka berputar-putar tiada henti. Bergerak selaras dengan alunan musik dan dzikir.

Menurut para santri, tarian ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Pusing, sempoyongan, terjatuh, hingga mual-mual sering dialami para santri saat awal-awal bejalar menari. Namun lama-kelamaan, para santri mulai mahir. ”Selain untuk mengasah jiwa spriritual, tarian ini juga sebagai meditasi diri untuk belajar lebih fokus,” kata Kholifah Riska salah seorang santriwati kepada Jawa Pos Radar Solo.

Menurutnya, tari sufi ini tak hanya sekadar gerakan berputar di titik yang sama. Namun juga melantunkan dzikir. Memohon ampunan dan doa kepada Allah SWT. Kholifah dkk sangat merasakan pelajaran berharga dari tarian ini. ”Hati merasa lebih bersih, seperti yang diajarkan Syekh Jalaludin Rumi,” ujarnya.

Staff Pengajar Ponpes Nuruh Hidayah Musa Ashngari menjelaskan, tarian ini sudah dibiasakan sejak lama. Bahkan tiap kali menari, para santri bisa bertahan dalam kurung waktu 45 menit hingga 1 jam tanpa berhenti. ”Tujuan menari ini untuk mensucikan diri. Karena yang ada dalam pikiran hanya berdoa kepada Allah SWT,” tandasnya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia