Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Cara Mahasiswa Indonesia Menyemarakkan Ramadan di Canberra, Australia

17 Mei 2019, 18: 46: 44 WIB | editor : Perdana

LIBURAN: Chandra Kartika saat di Danau Burley, Canberra.

LIBURAN: Chandra Kartika saat di Danau Burley, Canberra.

Share this      

Menjalani puasa Ramadan di Canberra, Australia tidak seberat di negara lain. Saat ini, Ramadan di kota bagian tenggara Negeri Kanguru itu jatuh pada musim dingin. Alhasil durasi berpuasa hanya sekitar 11,5 jam.

WAKTU salat Subuh di Kota Canberra sekitar pukul 05.30, atau selisih 1 jam dibanding waktu Subuh di Indonesia. Sementara waktu azan Magrib jatuh sekitar pukul 17.00. Karena siang yang pendek dan cuaca dingin, puasa di Canberra sedikit lebih ringan dibandingkan di Tanah Air.

Namun demikian, bagi mahasiswa yang menempuh studi di kota tersebut tetap saja rindu dengan suasana Ramadan yang semarak di Indonesia. Itu yang dirasakan Chandra Kartika.

”Enggak dapat feel-nya. Tidak ada kajian Subuh, salat Tarawih, tadarus, dan lain sebagainya. Sebab, nuansa Ramadan di Canberra sangat sepi,” beber Chandra kepada Jawa Pos Radar Solo.

Beruntung, musala kampus tempatnya belajar banyak kegiatan Ramadan yang digelar mahasiswa Indonesia. Mulai dari buka puasa bersama, tarawih, dan kajian. Mereka berbagi tugas untuk menyediakan makanan berbuka. Itu pun sifatnya sukarela.

”Kalau weekend, KBRI (kedutaan besar republik Indonesia, Red) juga mengadakan kegiatan yang sama. Tapi aku jarang ke sana karena jaraknya jauh,” sambung Chacha, sapaan akrabnya.

Di Central Mosque juga mengadakan buka puasa bersama. Di sana banyak muslim yang mayoritas dari Timur Tengah. Karena suasana terasa berbeda, dia lebih memilih berkumpul dengan sesama mahasiswa Indonesia.

”Kalau sama sesama mahasiswa Indonesia cocok menu makanannya. Di musala sudah ditempel list sukarelawan pembawa makanan, siapa saja boleh isi. Tapi kalau mau langsung bawa tidak masalah. Lumayan, kadang bisa sampai bawa pulang buat makan sahur,” katanya.

Canberra juga bukan kota yang sulit menemukan makanan halal di sana. Chacha menyebut ada satu resto Indonesia di dekat kampusnya Australian National University. Resto Malaysia, Timur Tengah, dan beberapa resto sushi juga ada label halalnya.

”Kalau mau masak sendiri, ada toko daging halal juga. Hampir setiap distrik juga ada toko Asia-nya,” imbuhnya.

Meski ada satu masjid besar, namun suara azan tidak terdengar. Chacha hanya mengandalkan aplikasi penentu waktu salah dari handphone-nya.

”Di sini tidak hanya orang Asia, tapi dari berbagai negara. Jadi mereka kurang aware kalau kita lagi puasa,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia