Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Menelusuri Jejak Sejarah Pondok Pesantren Tertua di Surakarta

17 Mei 2019, 20: 32: 03 WIB | editor : Perdana

TIGA DEKADE: Salah satu sudut Pondok Pesantren Ta’mirul Islam, Surakarta.

TIGA DEKADE: Salah satu sudut Pondok Pesantren Ta’mirul Islam, Surakarta. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

KAMPUNG Tegalsari, Laweyan, sejak zaman penjajahan sudah dikenal sebagai kampungnya para ulama. Mereka berasal dari berbagai golongan, mulai pengusaha batik sampai ulama kelas nasional. Lalu berkumpul membentuk pesantren besar. Inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Ta’mirul Islam.

Salah seorang pendiri Ponpes Ta’mirul Islam, KH Muhammad Halim menceritakan, cita-cita mendirikan Ponpes Ta’mirul Islam selaras dengan berdirinya Masjid Tegalsari pada 1928 silam. Namun kala itu baru terwujud madrasah diniyah. Maklum, Indonesia masih dalam situasi perang. Sehingga belum ada yang serius untuk mengelola ponpes.

”Baru setelah 1965, menjelang pemberontakan PKI, ada yang siap mengelola. Tapi belum terlaksana karena sudah keburu meletus G30S PKI,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Solo Rabu (15/5).

KH Naharussuhur muda yang juga salah seorang pendiri ponpes, masih mempertahankan cita-cita tersebut. Ia meneruskan keinginan berdirinya ponpes Ta’mirul Islam baru setelah dia meluluskan putranya dari Pondok Gontor pada 1986 silam. Naharussuhur mengajak sang putra untuk kembali merintis ponpes.

”Sejak itu berdiri pertama kali. Tapi statusnya pesantren kilat saat liburan Bulan Syawal. Peminatnya banyak sampai 57 santri. Selama 25 hari mereka mondok lalu kami undang orang tua santri untuk melihat perkembangannya. Berawal dari itu, ponpes mulai berdiri,” beber Ustaz Halim.

Pada 16 Juni 1986, secara resmi ponpes Ta’mirul Islam beroperasi. Lebih dari tiga dekade berdiri, ponpes Ta’mirul Islam masih tetap eksis. Tahun pertama dibuka, hanya sembilan santri. Kemudian bertambah sedikit demi sedikit hingga sekarang total berjumlah 725 santri baik putra dan putri.

Pendidikan di ponpes Ta’mirul Islam bernama Kulliyyatul Mualimin Al Islamiyah (KMI) atau setingkat SMA. Namun, santri sudah lancar berbahasa Arab. Sebelum lulus, para santri diwajibkan mengabdi selama setahun untuk ponpes. Mereka bertugas mengajar, baik di dalam ponpes maupun di tempat lain.

”Itu salah satu upaya kami mempertahankan kualitas sebagai eksistensi. Kami tidak pernah gencar promosi. Promosi justru dari santri kami sendiri,” imbuh Ustad Halim.

Dari masa ke masa, Ustad Halim tidak memungkiri banyak perubahan yang terjadi terutama karakter santri. Ia mengaku teknologi yang semakin maju ini membuat semangat belajar santri kurang maksimal. Untuk itu, para santri dilarang membawa handphone di lingkungan ponpes.

”Kalau anak boleh bawa HP bisa hancur. Habis waktu hanya untuk pegang HP. Dulu santri itu tekun. Sekarang, kalau di rumah sudah tidak pernah pegang buku,” tandasnya. (aya/adi) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia