Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

67 Napi Tak Lolos Syarat Remisi

18 Mei 2019, 16: 11: 51 WIB | editor : Perdana

BERHARAP: Beberapa narapidana di Lapas Kelas 2A Sragen berpotensi mendapatkan remisi di momen Lebaran kali ini.

BERHARAP: Beberapa narapidana di Lapas Kelas 2A Sragen berpotensi mendapatkan remisi di momen Lebaran kali ini. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Momen menjelang hadirnya Hari Raya Idul Fitri, ternyata disambut dengan sukacita oleh sebagian narapidana. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2A Sragen mengajukan 307 narapidana yang dinyatakan lolos syarat administrasi, untuk mendapatkan remisi. Namun 67 napi diantaranya ternyata dinyatakan tidak lolos penilaian syarat substansi.

Berdasarkan data Lapas Kelas 2A Sragen terdapat 502 warga binaan pada Jumat (17/5). Saat ini sudah ada 240 napi yang lolos syarat subtansi. Dalam artian selama menjalani masa hukuman, dinilai berkelakuan baik dan mengikuti program pembinaan dengan baik. Namun keputusan menerima remisi ada di tangan Direktorat Jenderal  Pemasyarakatan (Dirjen PAS) menjelang Idul Fitri.

Kepala Lapas Sragen Yosef B. Yembise menyampaikan pihaknya sudah mengajukan beberapa napi untuk bisa menerima remisi. 

”Sudah ada beberapa ratus yang kami ajukan untuk mendapatkan remisi, seperti umumnya pada Hari Raya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Yosef menyampaikan kemungkinan ada juga yang mendapat remisi bebas pada Lebaran kali ini. Harapannya dengan pengurangan hukuman ini, bisa menjadi momentum para napi untuk tidak mengulangi kejahatan serupa pada masa lalu. ”Kami harapkan setelah ke luar dari Lapas, para warga binaan bisa jadi manusia yang produktif. Yang pasti kami harap tidak lagi melanggar hukum,” ucapnya.

Remisi diberikan karena mereka yang dianggap telah memenuhi persyaratan substantif dan administratif. Secara hukum mereka berhak mendapatkan remisi. 

Selain harus berkelakuan baik dan telah menjalani sepertiga masa pidana, warga binaan yang mengajukan remisi juga harus bersedia bekerjasama dengan penegak hukum. Khususnya untuk membantu membongkar perkara tindak pidana sebagai justice collaborator.

Sementara saat disinggung narapidana yang meninggal kemarin di Blok C kamar 13, yakni Muh Fathurohman, dia menjelaskan sepengetahuannya korban merupakan napi yang rajin beribadah. ”Jadi yang tinggal di sini itu tidak semua orang jahat,” tandasnya. (din/nik)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia