Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Merasakan Pengalaman Ramadan di Adapazari, Turki

18 Mei 2019, 21: 26: 25 WIB | editor : Perdana

BANYAK BERSYUKUR: Fawwaz Ibrahim saat di Masjid Aya Sofia, Turki.

BANYAK BERSYUKUR: Fawwaz Ibrahim saat di Masjid Aya Sofia, Turki.

Share this      

Kultur masyarakat Turki dalam menyambut Ramadan sangat jauh berbeda dibandingkan di negara muslim lainnya. Padahal Negeri Permadani itu salah satu negara berpenduduk mayoritas muslim di Eropa. Berikut pengalaman mahasiswa Turki asal Indonesia.

RAMADAN saat ini kali kedua dirasakan Fawwaz Ibrahim, mahasiswa Sakarya University Turki asal Indonesia. Dia sempat kaget melihat kultur warga lokal dalam menyambut Ramadan. Di ruang publik Kota Adapazari, banyak orang dewasa yang makan dan minum secara terang-terangan.

Bahkan, rumah makan yang buka siang hari begitu ramai. Warga lokal berjubel mengantre makanan. Fawwaz juga menemui beberapa dosen yang mengajar sambil membawa makanan saat siang hari di bulan Ramadan ini.

Maklum saja, Turki yang mengklaim diri sebagai negara sekuler membuat pendidikan agama dan praktiknya tidak sebaik di Indonesia. Namun demikian, mereka tetap menghormati muslim yang berpuasa dengan cara mereka sendiri.

”Misalnya, warung-warung akan buka di jam sahur demi orang yang berpuasa. Orang yang tidak puasa berusaha menjauh saat berada di dekat kami. Tapi kehidupan beragama di Turki sudah semakin baik dibandingkan 15 tahun lalu,” beber Fawwaz.

Ramadan di Turki biasanya jatuh pada musim panas. Durasi puasa selama 16 jam, imsak mulai pukul 04.00 dan saat berbuka pukul 20.00. Salat Tarawih di Turki seragam 23 rakaat. Namun jangan dibayangkan betapa lama dan panjang waktu salatnya seperti di Indonesia. Setiap satu rakaat, imam hanya membaca satu ayat setelah Al Fatihah.

”Di sini juga tidak ada ceramah sebelum memulai salat Tarawih. Biasanya salat Tarawih selesai jam 22.40,” terang Fawwaz.

Masjid di kampusnya juga ada program itikaf 10 hari terakhir. Yang membanggakan, inisiator program tersebut mayoritas mahasiswa Indonesia. Pengelolaan masjidnya di tangan pemerintah daerah. Petugas takmir hingga imam yang ditunjuk bersatatus sebagai pegawai negeri yang digaji setiap bulannya.

”Sehingga kalau ada program bagi takjil di masjid biasanya disponsori oleh pemerintah. Di masjid kampus bahkan membagikan takjil untuk 1.500 orang setiap harinya,” terangnya.

Meskipun tidak seistimewa di Tanah Air, Fawwaz tetap menikmati menjalani puasa di Turki.

”Puasa itu kan sebenarnya soal mengelola hati. Bukan sekadar mengelola perut. Kalau lagi pandai mengelola hati, alhamdulillah tidak sulit. Ringkasnya, meskipun Ramadan di sini unik, namun tetap tidak seistimewa di Indonesia,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia