Rabu, 19 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Di Balik Peran Sekolah Pambiwara Keraton Solo

Luruskan Bahasa Jawa yang Salah Kaprah

19 Mei 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : Perdana

MENYIMAK: Murid Pawiyatan Pambiworo Marcukundo Keraton Solo mendengarkan materi yang disampaikan sang guru.

MENYIMAK: Murid Pawiyatan Pambiworo Marcukundo Keraton Solo mendengarkan materi yang disampaikan sang guru. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Tidak semua orang mampu menjadi pembawa acara atau pambiwara ala Keraton Kasunanan Surakarta. Mereka harus bisa berbahasa Jawa tingkat tinggi. Menyadari hal itu, Raja Keraton Kasunanan Paku Buwono (PB) XII kala itu memberikan dawuh kepada pejabat kepercayaannya untuk menjaga eksistensi budaya tersebut.

DAWUH itulah yang membuat Pawiyatan Marcukundo atau sekolah khusus pambiwara lahir dan terus berkembang hingga saat ini. Sekolah tersebut terletak di Dalem Kayonan, kompleks keraton setempat. 

Sore itu, beberapa siswa duduk di pendapa Dalem Kayonan. Tak berselang lama, dwijo atau sang guru hadir untuk memberikan materi. “Kegiatan ini digelar dari pukul 16.00-19.30. Rutin Senin dan Kamis selama enam bulan,” jelas salah seorang Dwijo Pawiyatan Pambiworo Marcukundo Kanjeng Raden Priyo Aryo Budayaningrat (S. Yustianto).

Menurut pria yang akrab disapa Kanjeng Yus ini, sekolah pambiwara didirikan atas dawuh PB XII. Yang dipercaya mengelolanya yakni Kanjeng Radenmas Haryo Yosodipuro. Yosodipuro kemudian mengumpulkan tiga muridnya di Pamardi Putri untuk mengembangkan materi pambiwara. 

Hingga saat ini, total murid sekolah pambiwara sebanyak 3.000 orang dan terbagi dalam 36 angkatan. Mereka bernaung di bawah Yayasan Kabudayan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kegiatan belajar mengajar di pawiyatan cukup modern. Modelnya seperti perkuliahan yang struktur dan sistematis. Materi pelajarannya antara lain kebudayaan Jawa, Pancasila, bahasa Jawa, aksara Jawa, tata carau pacara adat, subasita (tata karma), kaweruh beksan, kaweruh gending, studi lapangan, dan sebagainya. 

Para siswa dikenakan biaya senilai Rp 150 ribu per bulan. Nominal itu dipotong senilai Rp 30 ribu sebagai tabungan siswa untuk kegiatan lapangan. “Sebelum pendadaran, ada study tour ke Imogori, Jogjakarta. Tabungan itu digunakan untuk biayanya. Setelah itu ada ujian pendadaran (praktik dan tertulis). Setelah lulus dapat sertifikat (partisoro, Red) dengan kriteria cukup, baik, dan mumpuni,” urainya.

Dulunya, sekitar 1998, Kanjeng Yus juga menjadi murid di sekolah tersebut. Karena memiliki potensi, pada 2000 dia dipercaya oleh adik PB XIII Hangabehi, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau akrab disapa Gusti Moeng untuk mengajar murid pada angkatan selanjutnya.

“Awalnya sempat ragu apakah saya mampu. Tapi, karena langsung diminta oleh Gusti Moeng akhirnya saya beranikan diri. Walau sempat deg-degan mengajar di depan para senior saya,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, Kanjeng Yus makin mencintai profesinya sebagai dwijo di pawiyatan pambiwara. Dia bertekad melestarikan adat budaya Jawa di tengah gempuran modernitas.

“Dalam kebudayaan Jawa ada konsep sarat makna. Misalnya konsep hormat kurban diri, yakni seseorang harus mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak merasa paling benar,” beber dia.

Tekad Kanjeng Yus tersebut menemui tantangan besar. Generasi muda mulai lupa dengan kebudayaan asli dan bahasa ibu mereka. Di antaranya penggunaan bahasa Jawa yang salah kaprah.

“Pemakaian bahasanya saja banyak yang salah. Misalnya, prastawa yang diartikan peristiwa. Padahal prastawa itu terang, jelas, atau siap. Kito adalah kamu, kalau saya itu ulun. Faktanya, kito diartikan kita. Belum lagi upacara yang diartikan segala kegiatan beserta dengan perlengkapannya. Padahal dalam bahasa Jawa upacara itu perlengkapan. Sementara tindakannya adalah tata cara. Ini kan salah kaprah,” beber dia.

Karena itu, dalam metode pembelajarnanya, Kanjeng Yus menerapkan metode terbuka dengan obrolan interaktif. “Kebudayaan itu dinamis, maka tidak ada yang paling baik atau paling benar untuk melihat hal ini. Yang ada adalah penekanan bahwa versi keraton itu seperti ini. Jika hal ini sudah bisa diterima dengan baik oleh setiap siswa, harapannya bisa membantu menyebarkan ilmu,” terang pria yang juga menjabat ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa Provinsi Jawa Tengah, sekaligus Komite Seni Budaya Nusantara Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu, salah seorang murid pawiyatan pambiwara Sih Martanti, 54, tertarik dengan ilmu pambiwara yang baik dan benar. “Baru sebulan belajar di sini. Awalnya cuma ingin mengenal pambiwara, ternyata banyak yang belum saya ketahui,” ungkap warga Kampung Pijilan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo tersebut.

Meskipun usianya sudah lebih separo abad, Martanti tak mau kalah aktif dibandingkan murid lain dengan usia jauh lebih muda. Dia tak segan bertanya ketika ada materi yang butuh penjelasan lebih detail.

Murid lainnya Titik Sugiarti, 26, warga Kecamatan Kartasura, Sukoharjo mengaku bangga bisa mempertajam kemampuannya dalam berbahasa Jawa yang baik dan benar. Apalagi profesinya sebagai presenter televisi lokal di Kota Bengawan. “Bahasa daerah itu bisa hilang ketika tidak ada lagi yang peduli. Sebagai anak muda saya bersyukur masih bisa belajar seperti ini,” pungkasnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia