Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pengalaman Shofia Rianda Menjalani Puasa Ramadan di Sri Lanka

20 Mei 2019, 15: 16: 48 WIB | editor : Perdana

INTERNSHIP : Shofia Rianda (kanan) bersama anak-anak Sri Lanka

INTERNSHIP : Shofia Rianda (kanan) bersama anak-anak Sri Lanka

Share this      

Peristiwa bom di sejumlah gereja di Colombo, Sri Lanka pada 21 April masih menyisakan trauma di negara tersebut. Hingga kini, aktivitas warga setempat masih dibatasi. Termasuk umat muslim yang menjalani puasa Ramadan di sana.

SECARA iklim, Sri Lanka tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Suhu siang hari mencapai 32-34 derajat celcius. Hanya saja sedikit lebih lembab dibandingkan di Tanah Air. Situasi inilah yang membuat Shofia Rianda tidak terlalu sulit menjalani puasa Ramadan di Sri Lanka. Dia sedang menjalani internship di Esol College Sri Lanka selama enam bulan ke depan.

"Cuaca tidak jadi kendala. Yang bikin terasa beda karena di sini benar-benar sendirian puasanya. Tidak ada keluarga atau teman yang sama-sama puasa," ungkap Vina, sapaan akrabnya.

Maklum saja mayoritas penduduk Sri Lanka beragama Budha. Kebetulan Kota Malabe, tempat Vina menetap bukan kota yang banyak penduduk muslim. Sehingga suasana Ramadan seperti hari-hari biasanya. Dia begitu merindukan kemeriahan berbuka puasa bersama dengan takjil yang beranekaragam.

"Kalu mau buka bersama harus masak sendiri. Beruntung banyak makanan halal. Memang belum ketemu toko halal sih, tapi hampir tidak ada toko atau makanan yang tidak halal,” sambungnya.

Meskipun muslim di Sri Lanka termasuk minoritas, namun penduduk setempat tetap menghormati Vina dalam menjalani puasa. Belum lama ini, ada bomb blasts yang cukup besar di beberapa tempat di Colombo. Ini yang menyebabkan Vina belum boleh jalan-jalan terlalu jauh untuk mengeksplorasi Sri Lanka.

"Pengen nyari masjid. Karena selama ini belum pernah ketemu masjid. Tapi mau bagaimana lagi, aparat keamanan masih membatasi aktivitas warga. Tidak boleh pergi terlalu jauh, penjagaan masih ketat," terangnya.

Imsak di Sri Lanka mulai pukul 04.42, sedangkan buka puasa pukul 18.19. Durasi berpuasa tidak jauh berbeda dibadingkan di Indonesia. Dia tidak merasa berat, apalagi disibukkan aktivitas harian yang menyita waktu. "Aku di sini interning jadi English Facilitator gitu. Jadi harus banyak ngomong di depan anak-anak dan harus extra sabar," tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia