Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ngabuburit sambil Bahas Naskah Kuno ala Soeracarta Heritage Society 

21 Mei 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

ASYIK: Anggota Soeracarta Heritage Society berdiskusi soal sejarah Solo. 

ASYIK: Anggota Soeracarta Heritage Society berdiskusi soal sejarah Solo. 

Share this      

Ramadan  bukan berarti bermalas-malasan. Beragam kegiatan produktif tetap bisa dilakukan. Seperti Soeracarta Heritage Society ini. Sembari menunggu waktu berbuka, komunitas peduli sejarah ini mengisi dengan berdiskusi tentang naskah-naskah kuno. Seperti apa keasyikannya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

PUKUL 16.00 WIB, beberapa anggota Soeracarta Heritage Society sudah mulai memadati sebuah bangku panjang di halaman Rumah Banjarsari. Sorot mata mereka seakan tak sabar mendengar sejarah masa lampau tentang Kota Bengawan dari berbagai serat dan naskah kuno peninggalan nenek moyang ratusan tahun silam.  

Langit pun makin jingga kala ada orang datang membawa sejumlah lembaran kertas foto kopi naskah kuno. Beranjak gelap, sedikitnya sudah ada 30 peserta memadati obrolan buka bersama tersebut. “Baru pertama ini saya gabung,” ujar salah satu peserta, Suro, 26, saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo. 

Pria gondrong yang duduk di sudut taman itu mengaku tertarik dengan materi yang dibahas kali ini. Apalagi dia juga lulusan Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang juga akrab dengan berbagai serat dan naskah kuno dari zaman kerajaan di Jawa. 

“Kebetulan saya memang tertarik sama materinya. Kok soal manuskrip Jawa. Nah, kebetulan  saya juga belajar itu waktu kuliah. Makanya pengin tahu saja,” kata Suro. 

Jika disimak, ada berbagai hal menarik dari paparan dari pemateri sore itu. Rendra Agusta yang juga sebagai pentolan Komunitas Sraddha tampak cakap menceritakan detail masa lampau dari sejumlah naskah yang ia bawa. 

“Kalau biasanya SHS menengok bangunan dan benda cagar budaya. Kali ini saya mengajak memandang sejarah dari sisi yang lain,” ujar Rendra.

Membaca Solo dari manuskrip, begitulah yang ia ucapkan saat tangan kirinya menunjukkan beberapa penggalan naskah kuno dari Babad Tanah Jawi, Babad Surakarta, dan Babad Giyanti dengan banyak versinya. “Kalau diringkas ya hanya dua halaman. Pertama soal manuskrip itu sendiri, dan kedua soal sejarah Kota Solo,” kata dia.

Dia menekankan kepada setiap anggota agar jeli dalam memilih naskah sebagai sumber sejarah. Hal pertama yang bisa dirujuk adalah memilih penanggalan naskah yang paling dekat dengan peristiwa sejarah. Kedua adalah konteks paling dekat dengan peristiwa itu. 

“Misalnya saat kita ingin melihat Babad Giyanti, mengingat ada beberapa versi dari Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Jogjakarta. Yang paling baik adalah memandang naskah itu secara jujur bahwa ada banyak versi. Bukan soal yang benar atau salah, namun tentang keragaman versi yang ada di dalamnya,” beber Rendra.

Dari banyak naskah, sambung Rendra, Solo itu bukan sebuah desa sunyi yang kemudian ditempati kekuasaan baru Kerajaan Kasunanan Surakarta. Tapi memang sudah terbentuk sebagai lokasi yang masyarakatnya kosmopolitan. 

“Di Candi Nusukan itu ada Arca Siwa dan lainnya. Jelas kepercayaan masih Hindu-Budha. Kekuasaan baru dengan kepercayaan dan kebijakan politiknya yang baru kemungkinan turut berdampak atas hilangnya peninggalan Jawa kuno kala itu,” kata dia.

Dia berharap agar sejarah itu tidak melulu memandang soal benar salah atau terkungkung pada romantisme semata. Misalnya kejayaan kasunanan saat PB X. Faktanya hari ini bangunan peninggalan PB X banyak yang terabaikan. “Kita harus lebih jujur dalam memandang sejarah untuk menentukan langkah di masa depan,” harap Rendra.  

Sang empunya acara, Yunanto Sutyastomo kegiatan diskusi rutin tentang sejarah ini sudah dilakukan sejak Februari 2017. Meski ada pasang surut, anggota komunitas ini tetap konsisten untuk temu kangen dengan memicu ruang pikir satu sama lain dengan topik-topik yang menarik. 

Meski setiap anggota memiliki latar belakang berbeda-beda, mereka konsisten memunculkan kajian menarik yang dibalut dalam bentuk obrolan ringan seperti tema ngabuburit sore itu. “Kami bergerak di bidang heritage. Tujuannya agar bisa berkontribusi kepada pemerintah agar lebih peduli dengan bangunan dan benda cagar budaya. Mengingat fakta hari ini perhatian pemerintah masih jauh dari kata layak,” beber dia. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia