Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Inovasi Tiga Pemuda asal Solo Ciptakan Semen Berbahan Organik

22 Mei 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

BUKTIKAN DIRI: Tiga mahasiswa UMS raih juara 2 inovasi semen berbahan organik.

BUKTIKAN DIRI: Tiga mahasiswa UMS raih juara 2 inovasi semen berbahan organik.

Share this      

Jika biasanya semen dibuat menggunakan batu kapur dan silika. Kini ada semen organik yang disubtitusi bahan-bahannya dengan menggunakan tulang sapi, cangkang telur, dan sekam padi. Seperti apa kekuatannya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo.

TIGA pemuda ini merasa tertantang membuat semen dengan bahan-bahan alami. Maka Sulton Afkhar Nawawil, Restu Zulaekha dan Falido Wisnu Guntoro yang masih satu kampus ini mulai berpikir keras. Hingga akhirnya muncullah ide nyeleneh. Yakni, membuat semen organik. Inovasi tersebut merupakan salah satu bentuk dari pemanfaatan limbah organik. 

“Jadi semen yang biasanya dibuat pakai batu kapur dan silika, kami subtitusi bahan-bahannya dengan menggunakan tulang sapi, cangkang telur, sama sekam padi,” beber Falido Wisnu Guntoro kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pemilihan bahan tulang sapi dan cangkang telur ini karena kedua bahan tersebut dinilai mengandung batu kapur. Sehingga dapat digunakan untuk mengganti batu kapur dalam semen pabrik. Kemudian untuk sekam padi dinilai mengandung silika, sehingga dapat digunakan untuk mengganti pasir silikanya.

Falido menyebut kendala yang ditemui dalam pembuatan semen organik ini berkaitan dengan suhu. Suhu kalsinasi yang digunakan dalam pembuatan semen di pabrik mencapai 1.350 derajat celcius.

“Dalam penelitian yang kami lakukan, kami kesulitan untuk menemukan alat dengan suhu setinggi itu. Sehingga untuk pemecahannya, kami melakukan pembakaran kalsinasi dengan menggunakan las karena suhu las mencapai 2.000 derajat celsius,” ungkapnya.

Inovasi mereka diakui di kompetisi internasional. Terbukti mereka yang tergabung dalam tim UMS ini berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi  5thInternational Biotechnology Competition and Exhibition (IBCEx). Kegiatan ini digelar oleh University Teknologi Malaysia (UTM) pada April lalu.

Falido menjelaskan, kompetisi ini berbeda dengan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di tingkat nasional. Dalam kompetisi ini terdapat dua tahap yang harus dilalui peserta hingga berhasil meraih juara.

“Jadi exhibition itu semacam kita menampilkan hasil karya dalam sebuah display. Kita memasang poster atau banner. Di situ kita diwawancara dan ditanya-tanya tentang produk kita. Nanti baru kompetisinya itu ada presentasi di tahap kedua,” katanya.

Dalam tahap pertama itu, saat display berlangsung akan ada empat juri yang berkeliling. Keempat juri tersebut berkeliling dengan dibagi menjadi dua kloter. Selanjutnya, setiap kloter juri yang datang diberikan waktu 8 menit untuk menilai penjelasan dari peserta, dan ditambah 4 menit untuk tanya jawab.

Falido menambahkan bahwa di tahap pertama ini di ikuti oleh lebih dari 30 tim dari berbagai perguruan tinggi di tingkat internasional. Selanjutnya, dari masing-masing kategori akan dipilih tiga tim untuk masuk ke tahap dua.

“Total peserta di exhibition semacam ekspo itu ada 30 lebih tim dari perguruan tinggi di tingkat internasional. Tahap kedua itu nanti dari masing-masing kategori itu diambil tiga tim terbaik di masing-masing kategori. Jadi ada sembilan tim yang maju ke final,” sambungnya.

Atas prestasi ini, Falido berharap para mahasiswa ke depan tidak lagi memiliki rasa minder meski kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS). Sebab dengan memiliki kepercayaan diri, maka mahasiswa UMS pun tetap dapat berprestasi di tingkat internasional. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia