Senin, 16 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Merasakan Pengalaman Berpuasa Ramadan di Atas Kapal Pesiar

23 Mei 2019, 09: 15: 59 WIB | editor : Perdana

BERLABUH: Agus Suranto saat singgah di Alaska, Amerika Serikat

BERLABUH: Agus Suranto saat singgah di Alaska, Amerika Serikat (DOK.PRIBADI)

Share this      

Menjalankan ibadah puasa Ramadan di atas kapal harus siap dengan kondisi cuaca yang bisa berubah setiap waktu. Sebab, penentuan saat berbuka sangat bergantung pada pergerakan matahari. 

ANISA DIMAS TUTIK, Boyolali

MENEMPUH perjalanan laut yang panjang tak menyurutkan niat anak buah kapal (ABK) untuk tetap berpuasa. Apalagi jika bekerja di kapal pesiar yang sering mengarungi samudra. Banyak pengalaman yang didapat. Salah satu yang merasakan ini adalah Agus Suranto.

Pemuda asal Desa Karangmojo, Kecamatan Klego, Boyolali ini bekerja di Storeroom Kapal Pesiar Holland America Line. Dia bertugas sebagai penjaga gudang makanan. Ramadan tahun lalu menjadi pengalaman pertamanya menjalankan ibadah puasa luar negeri.

Selama sebulan penuh, Agus berlayar melintasi berbagai negara. Sesekali, kapalnya berlabuh di Alaska, Amerika Serikat. Saat itu, suhu di Alaska hanya sekitar 12 derajat celcius. Apalagi kapal berlayar tidak jauh dari kutub utara yang dikelilingi es. Jadi tidak heran kalau suhunya sangat dingin.

”Matahari hanya muncul 2 sampai 3 jam saja, tapi langitnya tetap terang. Justru dengan cuaca dingin puasanya jadi lebih khusyuk. Tidak terasa berat karena udaranya sangat mendukung. Kalau soal lapar kan bisa ditahan,” ujar lulusan D3 Internasional Hotel Management ini.

Saat berada di Alaska, Agus menjalani puasa selama 21 jam. Sahur dimulai dari pukul 02.00, berbuka pukul 23.30. ”Kalau saat berlayar di tengah samudra beda lagi. Untuk menentukan saat berbuka, kita tidak mengandalkan jam. Tapi nahkoda kapal akan melihat terbenamnya matahari, kemudian diinformasikan ke seluruh awak kapal,” imbuhnya.

Jika kondisi cuaca tidak bersahabat, cukup sulit menentukan saat berbuka. Apalagi jika langit ditutup mendung pekat. Pilihannya menunggu sampai cuaca kembali normal. ”Itu yang jadi pengalaman berkesan selama di atas kapal. Tapi alhamdulillah kondisi itu (cuaca buruk, Red), jarang kita temui,” terangnya.

Saat berlabuh ke Alaska, penentuan waktu puasa jauh lebih mudah. Umat muslim di Alaska juga terbilang minoritas. Namun Agus bersyukur banyak teman kerjanya asal Indonesia. Sehingga tidak terlalu sulit untuk menjalankan ibadah puasa bersama. Suasana kebersamaan juga terjalin antara rekan kerjanya. Baik sesama warga Indonesia maupun dengan warga asing yang tidak menjalankan puasa. Agus merasa memiliki keluarga kedua di negara orang. ”Kalau di kapal menu sahurnya terbatas. Paling hanya ayam saja,” tandasnya. (mg2/adi

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia