Senin, 16 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Merasakan Pengalaman Ramadan di Kota Deventer, Belanda

23 Mei 2019, 16: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Merasakan Pengalaman Ramadan di Kota Deventer, Belanda

Menjalani Ramadan di Negeri Kincir Angin Belanda terasa ringan karena bertepatan dengan musim semi. Meski durasi puasanya sekitar 17 jam lamanya.

BEBERAPA tahun terakhir, Ramadan di Belanda jatuh saat musim panas yang menguras energi. Beruntung, Ramadan kali ini terasa lebih mudah karena bertepatan musim semi. Cuaca tidak terasa panas sehingga puasa pun terasa ringan.

Itu yang dirasakan Tia Prayitno di Kota Deventer, Belanda saat ini. Ini kali pertama dia menjalani Ramadan di luar negeri. Tia sedang menyelesaikan pekerjaan di sana.

”Tahun lalu durasinya selama 18 jam. Kalau tahun ini beruntung Ramadan bukan saat summer. Jadi Imsak sekitar pukul 03.59 kemudian Maghrib pukul 21.17,” tutur Tia, sapaan akrabnya.

Cuaca di Belanda saat ini cenderung nyaman dan sejuk. Selain itu, Maghrib datang lebih cepat. Semakin musimnya menuju ke summer, daylight juga semakin lama. Dan sejak Ramadan selalu maju tiap tahunnya.

”Harusnya terasa lebih hangat. Tapi ini masih sekitar 8-12 derajat celcius suhunya. Tapi setidaknya engga kepanasan. Karena kemana-mana kan naik sepeda, kalau panas sedih juga. Harus pergi ke toko atau supermarket buat ngadem,” imbuhnya.

Di kota tempatnya tinggal tidak terlalu banyak warga Indonesia. Masjid juga tidak selalu mudah ditemui. Yang terdekat pun hanya dipenuhi oleh orang-orang Timur Tengah. Sehingga masih ada kegiatan salat Tarawih bersama di sana.

”Kalau semacam buka puasa ada juga beberapa acara yang diselenggarakan KBRI di Den Haag. Pada 11 Mei lalu, ada buka puasa bersama sambil nonton pementasan wayang orang. Jadi mungkin lebih terasa seperti suasana Ramadan di Indonesia. Karena ketemu orang-orang Indonesia dan ada takjil makanan khas Ramadan untuk berbuka,” tandasnya.

Soal toleransi, tidak ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Karena umat muslim tergolong minoritas. Sehingga semua kegiatan berjalan seperti biasanya.

”Yang penting kan menjaga iman kita sendiri. Meskipun di sini masjid susah ditemui, adzan tidak pernah terdengar, bahkan bacaan Alquran juga tidak ada. Semua tergantung kita sendiri,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia