Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Dinkes: Sopir Bus Maksimal Mengemudi 3 Jam, Masinis 5 Jam

24 Mei 2019, 12: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Dinkes: Sopir Bus Maksimal Mengemudi 3 Jam, Masinis 5 Jam

SELAIN armada, fisik dan stamina para pengemudi angkutan umum juga harus dijaga. Pasalnya, apabila terlalu memaksakan diri, bisa sangat berbahaya. Apalagi mereka membawa penumpang. Untuk itu sopir bus maksimal hanya diperbolehkan mengemudi 3 jam, sedangkan masinis kereta 5 jam.

Kasi Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Surakarta Sunaryo menuturkan, idealnya lama waktu mengemudi hanya 3 jam, setelah itu sopir wajib istirahat atau minimal digantikan sopir cadangan. 

“Jadi jangan menunggu sampai lelah atau mengantuk. Ketika sudah tiga jam harus diganti dengan sopir lain. Baik itu untuk bus AKAP (antarkota antarprovinsi) maupun AKDP (antarkota dalam provinsi),” ujar Sunaryo di sela pemeriksaan kesehatan sopir di Terminal Tipe A Tirtonadi Solo, kemarin (23/5).

Sunaryo mengatakan, masih ada anggapan bahwa minum minuman berenergi dapat menambah stamina. Padahal, bila diminum dalam jangka panjang dapat menyebabkan gagal ginjal. “Paling baik minum air putih minimal 2,5 liter saja sudah cukup,” ujar Sunaryo.

Apabila terlalu kelelahan, sopir bus sangat riskan terkena hipertensi. Bila ini tidak segera mendapat perawatan dapat menimbulkan penyakit stroke. “Hipertensi sering kali dialami oleh sopir bus karena tegang dan harus fokus selama perjalanan. Selain itu, kelelahan juga menjadi pemicu hipertensi,” urainya.

Menurutnya, gula darah juga menjadi kewaspadaan, sopir sering kali mengabaikan olahraga. Padahal, hal itu membuat gula darah selalu dalam taraf normal. Hasil pemeriksaan ini akan direkomendasikan ke koordinator terminal sebagai rekomendasi layak atau tidaknya pengemudi.

“Surat sertifikasi kelayakan jalan sesuai rekomendasi dari tim kesehatan melalui dokter. Layak atau tidaknya pengemudi melalui rekomendasi dari kepala terminal. Ketika ditemukan sopir yang menderita hipertensi sedang kami memberikan pengobatan namun apabila tergolong tinggi akan dirujuk untuk mendapat tindak lanjut,” ujarnya.

Berbeda dengan sopir bus, masinis kereta memiliki jangka waktu mengemudi sedikit lebih lama, yaitu sekitar 5 jam. Hal ini ditegaskan Kepala Stasiun Solo Balapan Suharyanto. “Kalau sudah lima jam, masinis tersebut harus diganti oleh masinis cadangan, dan dia beristirahat di ruang kru,” paparnya.

Ketika sudah sampai stasiun pemberhentian terdekat, masinis tersebut harus di cek kesehatannya. Mulai dari apakah dia mengonsumsi alkhohol, tensi darah, tingkat kelelahan dan kondisi lainnya. Pemeriksaan tidak hanya kepada masinis, namun juga kru kereta api lainnya, mulai dari asisten masinis, kondektur, polsuska, hingga pramuniaga di dalam kereta api. 

“Tidak hanya saat angkutan Lebaran saja, namun juga pada saat hari-hari biasa. Namun mendekati Lebaran ini lebih kita tingkatkan,” ujar dia. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia